https://ylx-4.com/fullpage.php?section=General&pub=234891&ga=a

KUMPULAN SKRIPSI SASTRA INGGRIS ANALISIS MIKROSTRUKTURAL RUBRIK “BLAIK” DALAM HARIAN SORE WAWASAN



BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Permasalahan
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat sebagai sarana komunikasi. Setiap anggota masyarakat dan komunitas tertentu selalu terlibat dalam komunikasi, baik bertindak sebagai komunikator (pembicara atau penulis) maupun sebagai komunikan (mitra-bicara, penyimak, atau pembaca). Peristiwa komunikasi yang berlangsung menjadi tempat untuk mengungkapkan ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas, dan sebagainya. Dengan demikian, bahasa digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan atau maksud pembicara kepada pendengar (Nababan, 1992:66). Bahasa menjadi salah satu media yang paling penting dalam komunikasi baik secara lisan maupun tulis.
Dalam konteks komunikasi tulis, Halliday dan Hasan (1994:34-35) mengemukakan tiga metafungsi bahasa. Ketiga metafungsi yang dimaksud adalah fungsi ideasional (ideational function), fungsi interpersonal (interpersonal function), dan fungsi tekstual (textual function). Ketiga metafungsi ini sangat penting dalam kaitannya dengan analisis wacana dan penggunaan bahasa dalam proses sosial dalam masyarakat.
Pada peristiwa komunikasi, bahasa berfungsi ideasional dan interpersonal. Sedangkan untuk merealisasikan dan mewujudkan adanya wacana, bahasa berfungsi tekstual. Dalam hal ini, para partisipan (penutur dan mitra-tutur, pembicara dan mitra-bicara) berkomunikasi dan berinteraksi sosial melalui bahasa dalam wujud konkret berupa wacana (lisan atau tulis) (Sumarlam, 2003:4). Dengan adanya wacana untuk berkomunikasi dan melakukan interaksi sosial, dapat ditegaskan bahwa fungsi tekstual pada hakikatnya merupakan sarana bagi terlaksananya kedua fungsi lainnya, yaitu fungsi ideasional dan fungsi interpersonal.
Dalam fungsi tekstual, yang menjadi objek kajian penelitian ini salah satu contohnya adalah dalam bentuk media cetak atau surat kabar (yang selanjutnya disingkat SK). SK merupakan sarana komunikasi yang dalam penyajiannya menggunakan bahasa tulis. SK menjadi salah satu sarana yang penting dalam kehidupan masyarakat karena dapat memberikan informasi yang aktual dan luas.
Salah satu SK yang terbit di Semarang adalah Harian Sore Wawasan (HSW) yang memuat peristiwa terkini dari dalam dan luar negeri. Yang membedakan dengan media cetak lainnya ialah waktu terbit pada sore hari. Pemilihan waktu ini diperuntukkan secara umum bagi kalangan masyarakat yang memiliki waktu luang pada sore hari untuk mendapatkan berita. Hal ini dikarenakan pada kaum tertentu telah menghabiskan waktu pagi dan siang untuk bekerja sehingga tidak sempat mendapatkan informasi yang terbaru pada hari itu juga. HSW menjadi salah satu pilihan dengan keunggulan berita terkini yang tidak terdapat pada surat kabar lainya.
Dalam salah satu kolom HSW terdapat suatu rubrik bernama “Blaik” yang memberikan informasi berupa cerita naratif yang dikirimkan oleh pembaca. Dalam kenyataannya banyak pembaca harian ini yang memberikan perhatian dan apresiasi positif terhadap artikel ini. Hal ini dapat dilihat dari tumpukan kumpulan cerita yang masuk ke redaksi, sehingga tidak jarang dilakukan penyeleksian secara ketat terhadap artikel yang akan dimuat. Bahkan banyak pembacanya menyempatkan membaca rubrik ini sebelum membaca berita lainnya. Alasannya, mereka telah jenuh membaca berita yang berkisar pada berita kriminal, politik, atau bencana saja. Mereka menginginkan bacaan yang ringan, tidak membebani serta segar dan menghibur. Dengan membaca kolom ini, mereka merasa terhibur, meski hanya sesaat.   
            Rubrik semacam ini merupakan salah satu usaha perusahaan percetakan surat kabar untuk meningkatkan kualitas dan daya tarik penerbitan tersebut. Berkaitan dengan ini, kolom atau rubrik “Blaik” dalam HSW (untuk kemudian disingkat RB), kehadirannya merupakan salah satu kolom andalan yang menjadikan media ini memiliki daya tarik tersendiri bagi pembacanya (khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya).
Penelitian yang mendalam terhadap rubrik “Blaik” dalam HSW dilakukan dengan menggunakan kajian secara linguistik, hal ini dikarenakan dalam penyajiannya menggunakan satuan wacana dengan ciri khas tersendiri. Kajian linguistik yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis wacana. Analisis wacana ialah studi tentang struktur pesan dalam komunikasi.
Analisis wacana RB ini menggunakan pendekatan mikrostruktural. Pendekatan mikrostruktural menitikberatkan pada mekanisme kohesi tekstual untuk mengungkapkan urutan kalimat yang dapat membentuk sebuah wacana menjadi koheren (Sumarlam, 2003:138). Di samping itu, wacana RB juga akan diteliti dari aspek-aspek kebahasaan yang meliputi diksi dan gaya bahasa yang merupakan ciri khas dalam RB dan menjadi sumber kelucuan atau humor. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai objek penelitian.
Wacana RB sangat menarik untuk dianalisis dengan penelitian analisis wacana secara utuh. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan di dalam analisis wacana dihasilkan proses komunikasi verbal yang berkesinambungan dari awal hingga akhir. Tahapan komunikasi tersebut akan menentukan struktur wacana dalam penelitian RB. Selain itu penggunaan bahasa dalam RB sangat unik dan khas sehingga membuat penulis tertarik untuk mengkaji secara linguistik.
Berkaitan dengan latar belakang di atas, permasalahan yang menarik untuk dikaji dalam penelitian ini adalah struktur mikro yang terdapat dalam Rubrik “Blaik” pada harian sore Wawasan.

B. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur mikro yang terdapat dalam Rubrik “Blaik” pada harian sore Wawasan.

C. Tinjauan Pustaka
Beberapa penelitian sebelumnya yang dinilai cukup relevan dengan penelitian ini antara lain dilakukan oleh Setiawan (2002) yang meneliti “Analisis Keutuhan Wacana Iklan Paranormal Majalah Liberty”. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi struktur wacana iklan mengenai kohesi gramatikal dan leksikal, serta koherensi antarkalimat dalam unsur wacana. Penelitian ini terdiri atas dua komposisi iklan, yaitu headline dan kopi/bodi teks serta dua bagian lain sebagai pendukung, yakni subjudul dan slogan.
            Penelitian lainnya dari Rohmani, tentang analisis wacana kaos oblong Dagadu Djokja tahun 2002. Peneliti mengkaji wacana dari struktur mikro, makro, dan superstruktur. Hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa tema-tema yang diangkat dalam wacana kaos oblong Dagadu Djokja digolongkan menjadi dua, yaitu kekurangan dan kelebihan kota Yogyakarta. Dalam struktur mikro diperoleh hal-hal yang melatarbelakangi munculnya teks-teks Dagadu Djokja. Dagadu menggunakan detail materi yang singkat agar lebih mudah dipahami. Dalam elemen sintaksis yang berupa kohesi dan koherensi menyebabkan teks-teks Dagadu Djokja menjadi enak dan mudah dibaca.
Penelitian sejenis yang mengkaji analisis wacana juga dilakukan oleh Riswanto (2005) dengan judul “Analisis Wacana Rubrik “Nah Ini Dia”. Penelitian ini menggunakan konsep analisis makrotekstual, mikrotekstual, dan fenomena kebahasaan. Pada analisis makrotekstual ditekankan pada topikalisasi dan konteks, sedangkan analisis mikrotekstual lebih kepada kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Sedangkan fenomena kebahasaan mencakup campur kode dan majas.
Analisis wacana lain yang cukup relevan ditulis oleh Kumalasari dengan skripsinya yang berjudul “Analisis Wacana Kolom Pojok Semarang di harian Suara Merdeka” pada tahun 2004. Kumalasari menggunakan pendekatan makrostruktural dan mikrostruktural. Analisis wacana melalui pendekatan mikrostruktural didapatkan kekohesian dan kekoherensian, sehingga wacana mudah dibaca. Tujuan penelitian ini yaitu, 1) untuk mendapatkan gambaran singkat tentang Kolom Pojok Semarang, 2) untuk menjelaskan struktur makro dan mikro, dan 3) untuk mendapat aspek kebahasaan lain. Hasil penelitian tersebut mengidentifikasi bahwa situasi yang terjadi dalam sebuah peristiwa tergantung pada waktu dan lokasi tertentu. Selain itu, penelitian yang dilakukan terdapat topik yang bermacam-macam sesuai dengan peristiwa yang sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat. Kolom Pojok Semarang ini juga memenuhi fungsi pers, yaitu sebagai kontrol sosial dan merupakan salah satu bentuk bahasa yang diungkapkan penulisnya terhadap realitas dan temuan dalam bidang politik, sosial, ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat.
Analisis lainnya mengenai rubrik di media juga ditulis oleh Wedha. Dia memilih objek penelitian berupa rubrik “Parodi” di harian Kompas pada tahun 2006. Hasil penelitian tersebut terdiri atas kohesi dan koherensi yang dilengkapi dengan identifikasi terhadap asal mula kemunculan rubrik “Parodi”. Aspek kohesi terbagi atas kohesi leksikal dan gramatikal, sedangkan aspek koherensi lebih kepada hubungan semantik yang ditimbulkan. Identifikasi terhadap rubrik “Parodi” menghasilkan tiga pokok bahasan, yaitu pengertian parodi, struktur tubuh wacana yang dibagi menjadi bagian awal, tubuh, dan penutup, serta fungsi yang meliputi ideasional, interpersonal, dan tekstual.
            Penelitian tentang analisis wacana lain dapat dijumpai dalam buku Teori dan Praktik Analisis Wacana oleh Sumarlam (2003). Buku tersebut memuat kumpulan beberapa penelitian analisis wacana yang dilakukan oleh mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang terdiri atas analisis wacana karya sastra, analisis wacana media cetak, serta analisis wacana media elektronik.

D. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode distribusional. Metode ini dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap pengumpulan data, tahap penganalisisan data, dan tahap penyajian data.
1) Tahap Pengumpulan Data
            Dalam tahap ini digunakan teknik simak, yaitu peneliti menyimak edisi RB di HSW yang terbit pada bulan Januari dan Februari tahun 2007. Penunjukan edisi ini berdasarkan pada tampilannya yang eksklusif serta termasuk edisi spesial awal tahun tersebut. Edisi ini merupakan karya pilihan yang menampilkan semua tokoh dan lebih banyak mengandung variasi ide pokok cerita. Sedangkan pemilihan tahun penulisan skripsi ini disesuaikan dengan waktu usulan penelitian ini, yang terkumpul sebanyak 28 buah artikel. Sampel edisi tersebut dianggap telah mewakili aspek penelitian yang akan dilakukan karena dimungkinkan setiap edisi RB dalam HSW memiliki bentuk wacana serta pola-pola wacana yang sama.
            Teknik lain yang digunakan adalah teknik catat. Peneliti melakukan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi data (Sudaryanto 1993:135). Data yang sudah ditranskripsi tersebut diklasifikasikan menurut aspek-aspek yang menjadi sarana pendukung keutuhan wacana. Pencatatan itu dapat dilakukan langsung ketika teknik simak selesai.

2) Tahap Analisis Data
Pada tahapan ini digunakan analisis silang (cross analysis). Analisis silang memungkinkan data dianalisis lebih dari satu sudut pandang. Dengan kata lain, data yang sama dapat dijadikan contoh lebih dari satu kali, akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Analisis data menggunakan metode agih yang alat penentunya adalah bahasa itu sendiri. Dalam metode agih terdapat tujuh macam teknik lanjutan. Ketujuh teknik tersebut tidak semuanya diterapkan dalam penelitian ini, adapun beberapa teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik interupsi (ekspansi di dalam) dan teknik ganti.
Teknik interupsi (ekspansi di dalam) digunakan untuk membuktikan bahwa kata-kata yang dipakai penulis sesuai dengan yang dimaksud oleh penutur dalam teks tersebut. Namun demikian, teknik interupsi (ekspansi di dalam) tidak digunakan dalam penelitian ini. Penulis hanya meminjam istilah teknik analisis tersebut. Contoh dalam wacana RB seperti berikut.

                                                   (1)            Djo langsung pucat, apalagi melihat tatapan Menik yang begitu tajam. Djo tidak bisa berkutik. “Kiri, Ф sini saja. Dasar playboy gombal,” ujar Menik. (RB, 06/01/2007)

Penggalan kalimat di atas menceritakan kebiasaan Djo Koplak yang  senang merayu wanita. Dia bertindak sebagai sopir angkot dan Menik merupakan penumpang satu-satunya. Djo Koplak mengaku masih bujangan padahal sudah berkeluarga. Pada saat bersamaan datanglah temannya, Pongkring, yang tanpa basa-basi langsung menanyakan kabar kelahiran anak kedua Djo Koplak yang memang sudah lama dikenalnya. Menik yang mengetahui telah dibohongi, langsung marah dan minta turun dari angkot saat itu juga.
Bentuk di atas mengalami interupsi yang terdapat pada kalimat ketiga. Kata yang mengalami interupsi tersebut adalah berhenti, yang berfungsi sebagai predikat. Kata tersebut menggambarkan sebuah tindakan yang merupakan tanggapan Menik yang telah dibohongi dengan meminta berhenti dan turun dari angkot saat itu juga. Kalimat  tersebut muncul karena sesuatu yang termuat dalam kalimat sebelumnya. Penggunaan elipsis itu untuk efektifitas dan efisiensi berbahasa. 
Teknik ganti digunakan untuk mengganti unsur tertentu dengan unsur lain (Sudaryanto, 1993:48). Contohnya:

                                                   (2)            Djo dan Pongkring saat itu sedang berdebat seru tentang Jeng Cipluk tetangga di kampungnya yang menurut berita, katanya di samping sebagai seorang mahasiswa juga mempunyai profesi ganda yaitu sebagai ayam kampus. Awal mula berita ini terdengar oleh Pongkring. Sehingga begitu mendengar kabar, Pongkring langsung wara-wara pada Djo.  (RB, 09/01/2007) 

Pada contoh di atas frase berita ini dapat menggantikan sebagian proposisi yang disebutkan dalam kalimat yang mendahului. Frase itu menggantikan hal yang telah disebutkan lebih dahulu, yaitu berita tentang Jeng Cipluk yang berprofesi ganda, yakni seorang mahasiswa juga  sebagai ayam kampus.
3) Tahap Penyajian Hasil Data
            Dalam tahap ini digunakan metode penyajian informal, yaitu penyajian hasil analisis dengan menggunakan kata-kata biasa. Dengan digunakan metode informal, penjelasan tentang kaidah menjadi lebih rinci dan terurai. Hasil analisis data yang disusun dan disajikan bersifat deskriptif, yaitu berdasarkan data yang merupakan gambaran permasalahan

















BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengantar
Wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif kompleks lengkap. Satuan pendukung kebahasaannya meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Namun, wacana pada dasarnya juga merupakan unsur bahasa yang bersifat pragmatis. Apalagi pemakaian dan pemahaman wacana dalam komunikasi memerlukan berbagai alat (piranti) yang cukup banyak. Oleh karena itu, kajian tentang wacana menjadi hal yang penting dalam proses pembelajaran bahasa. Tujuannya untuk membekali pemakai bahasa agar dapat memahami dam memakai bahasa dengan baik dan benar.
Istilah wacana mengandung pengertian yang kompleks dan kadang-kadang tidak mudah untuk dijelaskan. Sebuah wacana erat kaitannya dengan penggunaan bahasa Sebuah wacana juga dapat dianggap sebagai sebuah teks dan konteks. Oleh sebab itu, untuk menjelaskan pengertian wacana, pembicaraan diawali pada hal-hal yang berkaitan dengan deskripsi penggunaan bahasa.

B. Analisis Wacana sebagai Sebuah Alternatif Analisis Teks Media
Pembicaraan tentang penggunaan bahasa erat kaitannya dengan mencermati fungsi bahasa. Fungsi bahasa merupakan penggunaan bahasa oleh penuturnya untuk berbagai tujuan. Buhler dalam Oktavianus merumuskan bahwa bahasa memiliki fungsi ekspresif, fungsi konatif, dan fungsi representatif. Melalui fungsi ekspresif, bahasa digunakan oleh penuturnya untuk mengekspresikan diri dalam segala situasi. Melalui fungsi konatif, bahasa digunakan untuk mempengaruhi lawan tutur yaitu memerintah, menasihati, mengundang, mengajak, dan lainnya. Melalui fungsi representasi bahasa digunakan untuk menggambarkan situasi yang menyangkut berbagai aspek kehidupan.
            Senada dengan fungsi-fungsi di atas, Halliday juga mengemukakan tiga metafungsi bahasa, yaitu fungsi ideasional (ideational function), fungsi interpersonal (interpersonal function), dan fungsi tekstual (textual function). Ketiga metafungsi ini sangat penting karena berhubungan dengan penggunaan bahasa dalam proses sosial di dalam suatu masyarakat; dan dengan demikian pula dalam kaitannya dengan analisis wacana.
            Fungsi pertama, fungsi ideasional berkaitan dengan peranan bahasa untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan isi pikiran, serta untuk merefleksikan realitas pengalaman partisipannya. Fungsi kedua, fungsi interpersonal berkaitan dengan peranan bahasa untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk mengungkapkan peranan-peranan sosial dan peranan-peranan komunikasi yang diciptakan oleh bahasa itu sendiri. Fungsi interpersonal ini tampak pada struktur yang melibatkan bermacam-macam modalitas dan sistem yang dibangunnya. Fungsi ketiga, fungsi tekstual berkaitan dengan peranan bahasa untuk membentuk berbagai mata rantai kebahasan dan mata rantai unsur situasi yanag memungkinkan digunakannya bahasa oleh para pemakainya baik secara lisan maupun tertulis. Fungsi tekstual tampak pada struktur yang melibatkan tema (theme) dan rima (rhyme), yaitu struktur tematik dan struktur informasi.
            Dalam hal ini, para partisipan (penutur dan mitra-tutur, pembicara dan mitra-bicara) berkomunikasi dan berinteraksi sosial melalui bahasa dalam wujud konkret berupa wacana (lisan atau tulis). Dengan demikian, bahasa berfungsi ideasional dan interpersonal; sedangkan untuk merealisasikan dan mewujudkan adanya wacana, bahasa berfungsi tekstual. Fungsi tekstual tersebut pada hakikatnya merupakan sarana bagi terlaksananya kedua fungsi lainnya, yaitu fungsi ideasional dan fungsi interpersonal.
Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa wacana baik lisan maupun tulis mengemban fungsi tekstual dan di dalam fungsi tekstual itulah ide-ide, gagasan, dan isi pikiran diungkapkan. Melalui wacana itu pula antaranggota masyarakat (partisipan) berkesempatan menjalin komunikasi dan pergaulan serta dapat melakukan interaksi sosial dan  bekerja sama.
Analisis wacana adalah salah satu altenatif dari analisis isi selain analisis isi kuantitatif yang dominan dan banyak dipakai. Jika analisis kuantitatif lebih menekankan pada pertanyaan “apa” (what), analisis wacan lebih melihat pada “bagaimana” (how) dari pesan atau teks komunikasi. Melalui analisis wacana dapat diketahui bagaimana isi teks berita dan pesan itu disampaikan. Dengan melihat bagaimana bangunan struktur kebahasaan yang meliputi kata, frase, kalimat, dan lainnya, analisis wacana dapat melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks. (Eriyanto, 2001:xv)
Perbedaan analisis wacana dan analisis isi kuantitatif, seperti dikemukakan oleh Eriyanto (2001:337-341) diantaranya, pertama, analisis wacana dalam analisisnya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan analisis isi yang umumnya kuantitatif. Analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori. Dasar dari analisis wacana adalah interpretasi. Kedua, analisis isi kuantitatif pada umumnya hanya dapat digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru berpretensi memfokuskan pada pesan latent (tersembunyi). Ketiga, analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what) tetapi tidak dapat menyelidiki “bagaimana ia dikatakan” (how). Keempat, analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi. Hal ini berasumsi bahwa pada dasarnya setiap peristiwa selalu bersifat unik, karena tidak dapat diperlakukan prosedur yang sama yang diterapkan untuk isu dan kasus yang berbeda.

C. Batasan Wacana
Batasan atau definisi wacana yang dikemukakan para ahli bahasa sangat beragam. Antara definisi yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan-perbedaan karena sudut pandang yang digunakan pun berbeda. Namun demikian, juga terdapat teras-inti bersama atau persamaan-persamaan di antara definisi-definisi itu.
Kata wacana berasal dari kata vacana ‘bacaan’ dalam bahasa Sansekerta. Kata vacana itu kemudian masuk ke dalam bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Baru; wacana atau ‘bicara, kata ucapan’. Kata wacana dalam bahasa Jawa Baru itu kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi wacana ‘ungkapan, percakapan, kuliah’, seperti dituturkan Poerwadarminta dalam Baryadi (2002:1)
Istilah wacana diperkenalkan dan digunakan oleh para linguis di Indonesia sebagai padanan (terjemahan) dari istilah bahasa Inggris discourse. Kata discourse berasal dari bahasa latin discursus  yang berarti ’lari kesana kemari’ atau ’lari bolak-balik’. Kata ini diturunkan dari dis (dan/dalam arah yang berbeda) dan currere (lari). Jadi, discursus berarti ‘lari dari arah yang berbeda’. Makna istilah tersebut mengalami perkembangan, sehingga memiliki arti sebagai ‘pertemuan antarbagian yang membentuk suatu kepadanan’, menurut Dede Oetomo dalam Mulyana (2005:4).
Menurut Baryadi (2001:3), baik wacana maupun discourse merupakan istilah linguistik yang dimengerti sebagai “satuan lingual (linguistic unit(s)) yang berada di atas tataran kalimat”. Lebih lanjut, Baryadi mengungkapkan bahwa analisis wacana mengkaji wacana, baik dari segi internal maupun eksternalnya. Dari segi internal, wacana dikaji dari jenis, struktur, dan hubungan bagian-bagian wacana; sedangkan dari segi eksternal, wacana dikaji dari segi keterkaitan wacana itu denga pembicara, hal yang dibicarakan, dan mitra bicara. Dengan demikian, tujuan pengkajian wacana adalah untuk mengungkapkan kaidah kebahasaan yang mengonstruksi wacana, memproduksi wacana, pemahaman wacana, dan pelambangan suatu hal dalam wacana.
Kridalaksana via Sumarlam (2003:5), mengemukakan bahwa wacana sebagai satuan bahasa terlengkap; dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Hal yang penting adalah keutuhan atau kelengkapan maknanya. Adapun bentuk konkretnya dapat berupa apa saja (kata, kalimat, paragraf, atau sebuah karangan yang utuh) terpenting makna, isi dan amanatnya lengkap.
Senada dengan Kridalaksana, Tarigan (1987:27) juga mendefinisikan wacana sebagai satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir nyata disampaikan secara lisan atau tertulis. Tarigan menyebutkan ada delapan unsur penting yang merupakan hakikat wacana. Kedelapan unsur yang dimaksud ialah (1) satuan bahasa, (2) terlengkap/terbesar/tertinggi, (3) di atas kalimat/klausa, (4) teratur/tersusun rapi/rasa koherensi, (5) berkesinambungan/kontinuitas, (6) rasa kohesi/rasa kepaduan, (7) lisan/tulis, dan (8) awal dan akhir yang nyata.
Menurut Anton Moeliono dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988:34 & 334) wacana ialah rentetan kalimat yang berkaitan, sehingga terbentuklah mkna yang serasi di antara kalimat itu; atau wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan  proposisi yang lain membentuk satu kesatuan. Dalam definisi itu, unsur kesatuan dan hubungan antar kalimat dan keserasian makna merupakan ciri penting atau esensial di dalam wacana. Kesatuan hubungan tersebut harus didukung adanya hubungan proposisi, yaitu konfigurasi makna yang menjelaskan isi komunikasi dari suatu pembicaraan.
Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:1005) dinyatakan bahwa wacana merupakan kelas kata benda (nomina) yang mempunyai arti: (a) ucapan, perkataan, tuturan; (b) keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan; (c) satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh, seperti novel, buku, atau artikel.
Dengan mempertimbangkan segi-segi perbedaan dan persamaan yang terdapat pada berbagai batasan wacana tersebut, secara ringkas dan padat pengertian wacana dapat dirumuskan sebagai berikut. Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan atau tulis yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif dan saling terkait, serta dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren dan terpadu.
Bila pengkajian wacana dikembalikan dan dicari intinya, menjadi jelas bahwa hakikat wacana ialah satu bahasan yang lebih luas dari pada kalimat, mengandung amanat lengkap dan utuh. Hal yang lebih relevan lagi ialah bahwa wacana umumnya memiliki aspek-aspek pengaruh wacana yang bersifat kontekstual.

D. Wacana Tulis, Teks, dan Konteks
Cook dalam Eriyanto (2001:9) menyebut ada tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana: teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Sebagai contoh, dalam surat kabar bukan hanya teks tertulis, tetapi juga foto, tata lay out, dan grafik dapat dimasukkan sebagi teks.
Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya.
Wacana kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama. Titik perhatian utamanya adalah menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu proses berkomunikasi. Proses yang dibutuhkan tidak hanya proses kognisi dalam arti umum, tetapi juga gambaran spesifik dari budaya yang dibawa. Wacana tidak dianggap sebagai wilayah yang terjadi dimana, kapan, dan dalam situasi apa saja. Wacana ditafsirkan dalam situasi dan kondisi yang khusus. Oleh karena itu, wacana harus dipahami dan ditafsirkan dari kondisi dan bingkai sosial yang mendasarinya.

E. Keutuhan Wacana
Suatu wacana dituntut memiliki keutuhan struktur. Keutuhan itu dibangun oleh komponen-komponen yang terjalin di dalam suatu organisasi kewacanaan. Organisasi inilah yang disebut sebagai struktur wacana. Sebagai sebuah organisasi, struktur wacana dapat diurai atau dideskripsikan bagian-bagiannya. Keutuhan struktur wacana lebih dekat maknanya sebagai kesatuan maknawi (semantik) daripada sebagai kesatuan bentuk (sintaksis). Menurut Mulyana (2005), suatu rangkaian kalimat dikaitkan menjadi struktur wacana apabila didalamnya terdapat hubungan emosional (maknawi) antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Sebaliknya, suatu rangkaian kalimat belum tentu bisa disebut sebagai wacana apabila tiap-tiap kalimat dalam rangkaian itu memiliki makna sendiri-sendiri dan tidak berkaitan secara semantik.
            Wacana yang utuh adalah wacana yang lengkap, yaitu mengandung aspek-aspek yang terpadu dan menyeluruh. Aspek-aspek yang dimaksud antara lain adalah kohesi, koherensi, topik wacana, aspek leksikal, aspek gramatikal, aspek fonologis, dan aspek semantis (Mulyana, 2005:25-26).
            Van Dijk dalam Eriyanto (2001:104), melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya ke dalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro, yaitu makna global atau umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur, ialah struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar.
Analisis wacana RB ini menggunakan pendekatan mikrostruktural  Pendekatan mikrostruktural menitikberatkan pada mekanisme kohesi tekstual untuk mengungkapkan urutan kalimat yang dapat membentuk sebuah wacana menjadi koheren. Pendekatan mikrostruktural dalam hal ini meliputi aspek gramatikal (segi bentuk), aspek leksikal (segi makna), diksi atau pilihan kata.
            Menurut Moeliono via Sumarlam (ed.) (2003:138), kohesi adalah hubungan semantik atau hubungan makna antarunsur di dalam teks dan unsur-unsur lain yang penting untuk menafsirkan atau menginterpretasikan teks; pertautan logis antarkejadian atau makna-makna di dalamnya; keserasian hubungan antarunsur yang satu dengan yang lain dalam wacana, sehingga terciptalah pengertian yang apik.
Hubungan kohesif di dalam wacana secara umum ditandai dengan pemarkah gramatikal (kohesi gramatikal) dan pemarkah leksikal (kohesi leksikal). Penanda aspek gramatikal ini terdiri atas empat jenis, yaitu: pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (ellipsis), serta perangkaian (conjunction).
            Aspek leksikal atau kohesi leksikal adalah hubungan antarunsur di dalam wacana secara semantis. Kohesi leksikal ini mencakup pengulangan (repetisi), padan kata (sinonimi), lawan kata (antonimi), sanding kata (kolokasi), hubungan atas-bawah (hiponimi), serta kesepadanan atau paradigma (ekuivalensi).
            Di samping kohesi gramatikal dan leksikal, wacana RB ini juga akan ditilik dari aspek-aspek kebahasaannya yang menjadi kekhasan yang meliputi diksi atau pilihan kata.

F. Analisis Mikrostruktural
Pendekatan mikrostruktural terhadap analisis wacana RB meliputi aspek gramatikal (segi bentuk), sementara segi makna adalah struktur lahir bahasa yang mencakup aspek leksikal, yang pada akhirnya akan membentuk kohesi dan koherensi dalam wacana.


a. Aspek gramatikal
Penanda aspek gramatikal ini terdiri atas empat jenis, yaitu: pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (ellipsis), serta perangkaian (conjunction).
1) Pengacuan (referensi)
Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau mengikutinya. Satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain itu dapat berupa persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan lingual yang berfungsi membandingkan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya).
a) Pengacuan Persona
Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang), yang meliputi persona pertama (persona I), kedua (persona II), dan ketiga (persona III), baik tunggal maupun jamak. Pronomina persona I tunggal, II tunggal, dan III tunggal ada yang berupa bentuk bebas (morfem bebas) dan ada pula yang terikat (morfem terikat). Selanjutnya yang berupa bentuk terikat ada yang melekat di sebelah kiri (lekat kiri) dan ada yang melekat di sebelah kanan (lekat kanan).
b) Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengacuan waktu (temporal) dan tempat (lokasional). Pengacuan demonstrativa waktu terdiri atas waktu kini (saat ini, kini, sekarang), waktu lampau (kemarin, dulu, yang lalu), waktu yang akan datang (besok, yang akan dating), dan waktu netral (pagi, siang, sore, dsb). Adapun pengacuan tempat yaitu, dekat dengan penutur (sini, ini), agak dekat (situ,itu), jauh (sana), serta menunjuk secara eksplisit (Semarang, Kendal, dsb).
c) Pengacuan Komparatif
Pengacuan Komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya. Kata-kata yang secara umum digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidak berbeda dengan, lain halnya, persis seperti, dan persis sama dengan.
2) Penyulihan (substitusi)
Substitusi adalah penggantian satuan lingual tertentu yang telah disebut dengan satuan lingual yang lain. Dilihat dari segi satuan lingualnya, substitusi dapat dibedakan menjadi substitusi nominal, verbal, frasal, dan klausal.
a) Substitusi Nominal
Substitusi nominal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkategori nomina.
b) Substitusi Verbal
Substitusi verbal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lain yang juga berkategori verba.


c) Substitusi Frasal
Substitusi frasal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satuan lingual lain yang berupa frasa.
3) Pelesapan (ellipsis)
Pelesapan (ellipsis) adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat. Adapun fungsi pelesapan dalam wacana antara lain ialaha untuk (1) menghasilkan kalimat yang efektif (untuk efektivitas kalimat), (2) efisiensi, yaitu untuk mencapai nilai ekonomis dalam pemakaian bahasa, (3) mencapai aspek kepaduan wacana, (4) bagi pembaca/pendengar berfungsi untuk mengaktifkan pikirannya terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa, dan (5) untuk kepraktisan berbahasa terutama dalam berkomunikasi secara lisan.
4) Perangkaian (konjungsi)
Konjungsi yaitu salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan yang lain. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa kata, frasa atau klausa, kalimat, paragraf.
Dari segi maknanya pun, perangkaian unsur dalam wacana mempunyai bermacam-macam makna. Diantaranya adalah sebab-akibat, pertentangan, kelebihan (eksesif), perkecualian (ekseptif), konsesif, tujuan, penambahan (aditif), pilihan (alternatif), harapan (optatif), urutan (sekuensial), perlawanan, waktu, syarat, cara, dan makna yang lainnya.

b. Aspek leksikal
Aspek leksikal atau kohesi leksikal adalah hubungan antarunsur di dalam wacana secara semantis. Kohesi leksikal ini terdiri dari: pengulangan (repetisi), padan kata (sinonimi), lawan kata (antonimi), sanding kata (kolokasi), hubungan atas-bawah (hiponimi), serta kesepadanan atau paradigma (ekuivalensi).
1) Repetisi (pengulangan)
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Sumarlam, 2001:35). Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, repetisi dapat dibedakan menjadi delapan macam, yaitu repetisi epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis (Keraf, 1994: 127-128)
2) Sinonimi (padan kata)
Sinonimi diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain (Chaer, 1990:85). Secara garis besar, kata-kata sinonim adalah kata-kata yang sama artinya. Namun sebenarnya tidak ada dua kata yang seratus persen bersinonim. Hal ini diungkapkan Keraf (1984:131) bahwa antara dua kata selalu terdapat perbedaan, walaupun sedikit saja; entah perbedaan itu berupa perasaan kata saja maupun perbedaan makna dan perbedaan lingkungan yang dapat dimasukinya. Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana.
Berdasarkan wujud satuan lingualnya, sinonimi dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu, (1) sinonimi antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), (2) kata dengan kata (3) kata dengan frase atau sebaliknya, (4) frasa dengan frasa, (5) klausa/kalimat dengan klausa/kalimat.
3) Kolokasi (sanding kata)
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam satu domain atau jaringan tertentu, misalnya dalam jaringan pendidikan akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kata-kata seperti guru, murid, buku, sekolah, pelajaran, dan alat tulis misalnya, merupakan contoh kata-kata yang cenderung dipakai secara berdampingan dalam domain sekolah atau jaringan pendidikan.
4) Hiponimi (hubungan atas-bawah)
Hiponimi (hubungan atas-bawah) diartikan sebagai satuan bahasa (kata, frase, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Unsur atau satuan lingual yang mencakupi beberapa unsur atau satuan lingual yang berhiponim itu disebut ”hipernim” atau “superordinat”.
5) Antonimi (lawan kata)
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain; atau satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Antonimi disebut juga oposisi makna. Pengertian oposisi makna mencakup konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya kontras makna saja.
Berdasarkan sifatnya, oposisi makna dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) oposisi mutlak, (2) oposisi kutub (3) oposisi hubungan, (4) oposisi hirarkial, dan (5) oposisi majemuk. Oposisi makna atau antonimi juga merupakan salah satu aspek leksikal yang mampu mendukung kepaduan wacana secara semantis (Sumarlam, 2003:40).
6) Ekuivalensi (kesepadanan atau paradigma)
Ekuivalensi adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama yang menunjukkan adanya hubungan kesepadanan, misalnya hubungan makna antara kata membeli, dibeli, membelikan, dibelikan,, dan pembeli, semuanya dibentuk dari bentuk asal yang sama yaitu beli. Demikian pula belajar, mengajar, pelajar, pengajar, dan pelajaran yang dibentuk dari bentuk asal ajar juga merupakan hubungan ekuivalensi. Seperti contoh berikut.

(a)           Andi memperoleh predikat pelajar teladan. Dia memang tekun sekali dalam belajar. Apa yang telah diajarkan oleh guru pengajar di sekolah diterima dan dipahaminya dengan baik. Andi merasa senang dan tertarik pada semua pelajaran.
(b)          Fatimah rajin sekali membaca buku. Baik buku pelajaran maupun buku bacaan lainnya. Ia mempunyai perpustakaan kecil di rumahnya. Hampir semua buku yang dikoleksi sudah dibaca. Fatimah bercita-cita ingin menjadi pembaca berita di televisi agar semua orang mengenalnya.

c. Fenomena Kebahasaan
Penulis mengamati dalam waktu tertentu, bahwa wacana rubrik “Blaik” diciptakan dengan memanfaatkan beragam aspek kebahasaan. Aspek kebahasaan yang dimunculkan dalam wacana ini senantiasa bertalian erat dengan bahasa Jawa (sering Jawa ngoko), diksi, gaya bahasa, dan plesetan. Namun demikian, penelitian ini hanya mendeskripsikan mengenai diksi atau pilihan kata yang menjadi ciri khas tersendiri dalam RB.
Bahasa yang digunakan dalam RB dimaksudkan sebagai wacana humor yang ringan dan bersifat rekreatif. Kelucuan/kekonyolan yang diciptakan (dan kemungkinan juga keanehan) yang mengacaukan asumsi-asumsi para pembaca merupakan bagian penting atau inti dari wacana RB ini.
c.1 Diksi
Menurut Keraf (1984:12), diksi atau pilihan kata adalah kata-kata yang dipilih sesuai  dengan makna gagasan yang ingin disampaikan. Kata-kata tersebut cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarkat pendengarnya.
Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggambarkan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
Pemakaian diksi dimaksudkan untuk memudahkan dan mendapatkan kesesuaian tujuan yang akan diperoleh. Pengarang ingin mengekspresikan pengalaman atau imajinasinya secara padat dan intens yang berfungsi sebagai gambaran penjelas dalam beraneka pilihan kata.
















BAB III
ANALISIS MIKROSTRUKTURAL
WACANA RUBRIK “Blaik”
DALAM HARIAN SORE WAWASAN

A. Deskripsi Seputar Wacana Rubrik “Blaik” di Harian Sore Wawasan
Rubrik “Blaik” merupakan salah satu kolom yang terdapat dalam harian sore Wawasan yang terbit setiap hari kecuali hari Minggu. Kolom rubrik “Blaik” senantiasa terletak pada halaman 1 di pojok kanan bawah dan dilanjutkan di salah satu halaman lainnya di bagian belakang.
Rubrik ini berwujud sebuah wacana yang menggambarkan peristiwa atau kejadian-kejadian aneh, lucu, konyol, dan tak biasa. Kejadian-kejadian aneh itu dikreasikan dengan berbagai cara, yang dikemas dalam bentuk cerita (pendek). Bentuk fisiknya berupa rentetan kalimat dan dijalin menjadi paragraf-paragraf, yang terbagi atas paragraf pembuka, isi, dan penutup. Karena cerita yang ditampilkan berisi kekonyolan dan kelucuan, tokoh utama cerita ini diberi nama Djo Koplak, yang artinya bodoh, tolol, konyol (Jawa:koplak). Namun, ada versi lain mengenai cerita asal-usul nama Djo Koplak ini. Dahulu ketika pada awal berdirinya harian sore Wawasan, ada salah satu karyawan yang bernama Djo. Djo ini memiliki karakter humoris yang sering membuat tertawa teman-teman kerja lainnya. Bahkan tidak segan-segan Djo melakukan tindakan-tindakan yang aneh dan konyol untuk sekedar membuat terpingkal-pingkal orang-orang didekatnya. Sejak saat itu nama Djo dijadikan inspirasi untuk membuat rubrik yang ringan dan segar bersifat humoris yang dalam perkembangannya melibatkan pembaca sebagai sumber berita. Istilah koplak diambil dari bahasa Jawa yang dianggap sesuai dengan karakter tokoh seorang Djo. 
Para penulis wacana ini adalah pembaca harian sore Wawasan yang sebagian besar warga kota Semarang dan sekitarnya, seperti Kendal, Ungaran, Demak, dan Mranggen. Hal ini terlihat dari para pengirim artikel ini yang sebagian besar berasal dari daerah-daerah tersebut. Dalam perkembangannya, para pembaca rubrik “Blaik” ini semakin luas seiring dengan meningkatnya oplah harian sore Wawasan.
Selanjutnya, cerita (yang berasal dari pembaca) ini diolah oleh redaktur harian sore wawasan dengan mengganti nama-nama pelaku (yang semula dikirim pembaca) dengan nama-nama yang dijadikan tokoh dalam cerita di setiap terbitan, seperti Djo Koplak (tokoh utama), dan beberapa tokoh pembantu, di antaranya Pongkring, Jeng Cipluk, Jeng Minul, Mince, Mul Kenthi, Pak Timbul, dan lainnya.
Dari segi perwajahan, rubrik ini selalu ditampilkan dengan latar belakang warna putih dan dilengkapi oleh aksen warna berbeda-beda pada setiap edisinya. Adapun aksen warna yang sering muncul diantaranya adalah kuning, biru, hijau, dan merah. Judul artikel ditulis dengan tinta hitam dengan ukuran huruf yang lebih besar daripada artikel cerita. Nama rubrik “Blaik” ditulis dengan warna putih yang terletak di tengah atas dan dilatarbelakangi dengan warna merah serta dilengkapi gambar ikon karakter tokoh khas rubrik “Blaik”. Jika artikel cerita ditulis dengan jenis tulisan Times New Roman, nama rubrik Blaik…” ini ditulis dengan jenis tulisan Monotype Corsiva. Rubrik ini juga disertai dengan ilustrasi berupa gambar kartun di tengah-tengah artikel, yang disesuaikan dengan isi cerita. Judul-judul yang ditampilkan sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia dengan wujud klausa atau ungkapan, seperti: Kena kau!, Biar Gaul, Buaya darat..., Gratis Mania, dan lain-lain.
Dalam kaitannya dengan teori kebahasaan, pencipta cerita dalam rubrik “Blaik“ ini ternyata secara tidak sadar telah memperhitungkan berbagai aspek komponen tutur di dalam mengkreasikan karyanya. Komponen-komponen setting, participant(s), act of sequence, key, norm of interaction, instrument, dan genre dari wacana ini agaknya telah pula diperhitungkan, sehingga wacana ini memiliki sifat-sifat tertentu. Kekhasan yang terdapat di dalamnya di antaranya bahasanya mudah dipahami, bersifat semi formal, istilah-istilah yang sering dijumpai, mengandung alih kode dan campur kode bahasa Jawa, serta berisi permainan bahasa, yang keseluruhannya merupakan upaya untuk menghibur para pembacanya. Permainan bahasa yang berupa plesetan dan berbagai bentuk makna kata juga merupakan ciri yang sangat penting di dalam wacana rekreatif. 

B. Jenis Wacana
Menurut Djasudarma via Sumarlam (ed). (2003:136), jenis wacana dapat dikaji dari segi eksistensinya (realitasnya), media komunikasi, cara pemaparan, dan jenis pemakaian. Menurut realitasnya, wacana dibagi menjadi wacana verbal dan non verbal; sebagai media komunikasi wacana berwujud tuturan lisan dan tulis; dari segi pemaparan, diperoleh jenis wacana naratif, deskriptif, prosedural, ekspositori, dan hortatori; dari jenis pemakaian, akan didapatkan wacana jenis monolog dan dialog serta polilog.
            Berdasarkan cara dan tujuannya, wacana RB termasuk dalam wacana narasi. Wacana narasi atau wacana penceritaan, disebut juga wacana penuturan yaitu wacana yang mementingkan urutan waktu, dituturkan oleh persona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu (Sumarlam, 2003:17). Wacana narasi ini berorientasi pada pelaku dan seluruh bagiannya diikat secara kronologis. Jenis wacana narasi pada umumnya terdapat pada berbagai fiksi. Wacana narasi dapat diperhatikan pada contoh berikut.

(1)       Djo Koplak kita kali ini tergolong tipe demonstrative. Kalau bicara dan menerangkan sesuatu, biasa dipastikan tangannya ikut menggambarkan apa yang dikatakannya, sraweyan kemana-mana.
      Bicara soal kelapa misalnya, tangannya menggambarkan buah  kelapa. Kalau bicara tentang anjing tangannya juga bergerak menggmbarkan tingkah hewan itu, dan sebagainya. (RB, 07/02/2007)

            Wacana (1) di atas dinarasikan oleh persona ketiga (penulis) dan berorientasi pada pelaku atau tokoh dalam cerita tersebut, yaitu Djo Koplak seorang pemuda yang memiliki perilaku atau kebiasaan semacam melakukan gerakan tambahan oleh tangannya dalam setiap kali berbicara. Pada setiap obrolan, tangannya sangat aktif dalam menerangkan apa yang dikatakannya, hingga tidak bisa diam. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa kebiasaan itu termasuk tipe demonstratif.
C. Analisis Mikrostruktural
Yang pertama akan dibahas adalah pemanfaatan pendekatan mikrostruktural dalam wacana RB. Pendekatan mikrostruktural ini terdiri atas aspek gramatikal yang berkaitan dengan aspek bentuk sebagai struktur lahir bahasa. Penanda aspek gramatikal ini terdiri atas empat jenis, yaitu: pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (ellipsis), serta perangkaian (conjunction).
Di samping keempat jenis aspek gramatikal di atas, terdapat aspek leksikal, yaitu hubungan antarunsur dalam wacana secara semantik. Kohesi leksikal ini terdiri atas: pengulangan (repetisi), padan kata (sinonimi), lawan kata (antonimi), sanding kata (kolokasi), hubungan atas-bawah (hiponimi), serta kesepadanan atau paradigma (ekuivalensi).

C.1 Aspek Gramatikal
Dalam wacana RB banyak terdapat pemarkah aspek gramatikal yang berfungsi mendukung kepaduan atau kekohesifan sebuah wacana.  Penanda aspek gramatikal itu ialah: pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (ellipsis), serta perangkaian (conjunction).
C.1.1. Referensi
Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau mengikutinya.

C.1.1.1 Pengacuan persona
Pengacuan yang berupa pronomina persona dapat dilihat pada wacana di bawah ini:
(1)      “Sori, Kring. Ini Ide teman-teman. Aku hanya pelaksana saja. Soalnya teman-teman sering sebel sama kamu yang sukanya gratisan melulu. Sesekali keluar duit dikit demi teman-teman kenapa, sih?” kata Djo lalu pergi. (RB, 18/01/2007)

(2)       Pongkring percaya Djo akan segera menyusul. Ia benar-benar tak tahu jika temannya itu semakin asyik menggoda si penjaga warung. (RB, 05/01/2007)

(3)    Pongkring masih tertegun. Dia gela banget kehilangan uang 75 ribu. Dipandanginya bungkusan sate di tangannya. Apakah rasa sate itu sama enaknya seperti sate gratisan? (RB, 18/01/2007)

(4)    ”Apa kabar bos. Anak keduamu sudah lahir, cewek apa cowok? Sori aku belum sempat tilik,” ujar Pongkring. (RB, 06/01/2007)

(5)    Mereka berangkat naik motor Djo. Ternyata Pongkring memilih warung sate kambing langganannya. Djo pesan sepuluh tusuk, begitu pula Pongkring. Mereka makan dengan lahap. (RB, 18/01/2007)

(6)         Akhirnya mereka pun pulang. Sesampai di rumah Pongkring, segera Djo mengeluarkan amplop dari saku jaketnya. “Hampir aku lupa, Djo. Tadi juru bayar kantor kita menitipkan gajianmu sama aku.”  (RB, 18/01/2007)

Pada wacana (1) pronomina persona kedua tunggal bentuk bebas kamu mengacu pada unsur lain yang berada di dalam tuturan (teks) yang disebutkan sebelumnya, yaitu Pongkring. Dengan ciri-ciri yang disebutkan itu, kamu (1) merupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks) yang bersifat anaforis (karena acuannya disebutkan sebelumnya atau antesedennya berada di sebelah kiri) melalui satuan lingual berupa pronomina persona kedua tunggal bentuk bebas.
Pada wacana (2) dan (3) satuan lingual ia dan dia merupakan pronomina persona ketiga tunggal bebas yang mengacu pada Pongkring yang berada di sebelah kirinya. Dengan demikian, merupakan kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks) yang bersifat anaforis (karena acuannya disebutkan sebelumnya atau antesedennya berada di sebelah kiri).
Pada wacana (4) pronomina persona I tunggal bentuk bebas aku mengacu pada unsur lain yang berada di dalam tuturan (teks) yang disebutkan kemudian, yaitu Pongkring (orang yang menuturkan tuturan itu). Dengan ciri-ciri seperti itu maka aku (4) merupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks), yang bersifat kataforis (karena acuannya disebutkan kemudian atau antesedennya berada di sebelah kanan) melalui satuan lingual berupa pronomina persona I tunggal bentuk bebas.
Sementara pada wacana (5) dijumpai pengacuan persona ketiga jamak yaitu mereka. Kata mereka pada kalimat keempat mengacu pada unsur di sebelah kirinya, yaitu Djo dan Pongkring. Dengan demikian, satuan lingual Djo dan Pongkring (5) bersifat anaforis yang merupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks).
Di samping itu, pada wacana (6) terdapat pengacuan persona pertama jamak bentuk bebas kita. Satuan lingual kita (6) mengacu pada unsur lain yang berada di dalam tuturan (teks) yang disebutkan sebelumnya, yaitu Djo dan Pongkring. Satuan lingual kita pada wacana (6) merupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks) yang bersifat anaforis (karena acuannya disebutkan sebelumnya atau antesedennya berada di sebelah kiri)
C.1.1.2 Pengacuan demonstratif.
Pengacuan lain yang terdapat dalam wacana RB ini adalah pengacuan demonstratif. Pengacuan demonstratif ini meliputi pengacuan waktu dan tempat. Pada wacana RB ditemukan pengacuan demonstratif waktu dan tempat, seperti:


(7)      Duduk-duduk di atas jembatan, di mulut gang, merupakan kegiatan yang hampir tiap sore dilakukan oleh Djo Koplak dan teman-temannya. Dari tempat itu mereka menikmati lalu lalang kendaraan. Tapi bagi Djo Koplak dan teman-temannya yang lebih mengasyikkan adalah bisa menggodain cewek-cewek yang melintas di dekat situ. (RB, 06/02/2007)

(8)      Lha dhalah lagi, saat ia berbalik, ternyata banyak jamaah sudah berada di teras warung. Mereka sengaja dibelokkan Pongkring sepulang dari mengunjungi makam, agar bisa menyaksikan kekonyolan Djo. Di sana Djo diomeli jamaah, dan pasti ‘dihabisi’ sepanjang jalan kaetika berada dalam bus. (RB, 05/01/2007)

(9)      Mereka berpikiran sama dengan Djo Koplak, pemilik rumah ini tentu sangat kaya, terbukti mampu membeli lahan luas di pinggir jalan, dan kemudian membangun rumah sebegitu besarnya.
Kini, setelah itu jadi, belum tampak ada kegiatan pindahan, atau     tanda-tanda rumah itu akan ditempati. Karena terdorong rasa    penasaran, Djo Koplak berinisiatif mengajak teman-temannya melihat-lihat keadaan rumah tengah hari. (RB, 03/02/2007)



Pada wacana (7) terdapat pengacuan demonstratif tempat, yaitu itu.. Satuan lingual itu memiliki keterangan agak dekat dengan penutur yang mengacu pada sebuah tempat di atas jembatan tersebut, yaitu di sekitar mulut gang kampung. Dari tempat itu para pemuda yang sedang nongkrong dapat menikmati lalu lalang kendaraan.
Pada wacana (8) satuan lingual di sana yang menunjukkan bahwa tempat itu jauh dengan penutur. Pada tuturan tersebut satuan lingual disana menjelaskan suatu tempat yang berada di sebuah teras warung.
Pada wacana (9) terdapat pengacuan demonstratif waktu kini, yaitu kini pada awal kalimat pertama paragraf kedua. Satuan lingual kini pada wacana tersebut menerangkan waktu siang hari ketika proses pembangunan rumah telah selesai.
C.1.1.3 Pengacuan komparatif
Selain itu, dalam wacana RB juga terdapat pengacuan komparatif (perbandingan) yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya. Berikut adalah contoh pengacuan komparatif yang ditemukan dalam wacana RB.
     
(10)   Tanpa diduga, Bu Minah, istri Pak Mul yang mau meletakkan baki berisi kudapan dan minuman untuk tamunya itu langsung terkejut. Seketika langsung njondhil, melihat dua lengan menjulur seperti portal di depannya. Mau mundur sudah terlambat, mau ke samping susah dan langsung saja, “Krompyaaang…!” bunyi baki berisi makanan dan minuman jatuh, terkena tangan Djo. Lain halnya dengan Djo, wajahnya langsung pucat, elik seperti kertas diuntel-untel dan tangannya langsung mengkeret, seperti pohon putri malu yang baru saja kesentuh tangan. (RB, 07/02/2007)

(11)   Pegawai itu lalu membuka daftar riwayat hidup Djo. Tak lama kemudian pegawai itu itu terbahak-bahak. Djo bengong dan heran. Mau tahu mengapa pegawai itu tertawa ngakak? Pasalnya, Djo menulis daftar riwayat hidupnya begini:
Pada tanggal 5 Januari 1970 lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi itu diberi nama Djo Koplak oleh orang tuanya. Waktu kecil, Djo senang bermain di sungai dan mencari belut di sawah. Belut kemudian dibakar bersama teman-temannya...
Ajaibnya, Djo menulis daftar riwayat hidupnya itu sepanjang tiga halaman folio. Hebat kamu, Djo. Kayak cerpenis saja. Hahaha! (RB, 12/02/2007)

Satuan lingual lain halnya pada wacana (10) adalah pengacuan komparatif yang berfungsi membandingkan perbedaan perilaku ketika baki Bu Minah njondhil terkena tangan Djo dengan sikap Djo saat itu yang langsung pucat. Sementara itu, satual lingual seperti, pada kalimat berikutnya mengacu pada perbandingan bentuk atau wujud; yang pertama menggambarkan wajah pucat Djo seperti kertas diuntel-untel, serta kedua tangan Djo mengkeret seperti pohon putri malu yang baru tersentuh tangan.
Pada wacana (11) satuan lingual kayak (dalam bahasa Jawa berarti seperti) adalah pengacuan komparatif  yang berfungsi membandingkan suatu hal dengan profesi. Tindakan Djo yang menulis daftar riwayat hidup sepanjang tiga halaman dipersamakan dengan seorang penulis cerpen yang panjang lebar. Karena tingkah lakunya itu, Djo dikatakan seperti seorang cerpenis. 


C.1.2 Substitusi
Substitusi adalah penggantian satuan lingual tertentu yang telah disebut dengan satuan lingual yang lain. Dilihat dari segi satuan lingualnya, substitusi dapat dibedakan menjadi substitusi nominal, verbal, frasal, dan klausal.
C.1.2.1 Substitusi nominal
Substitusi nominal, yaitu penggantian satuan lingual yang berkategori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkategori sama. Substitusi nominal terdapat pada wacana RB dibawah ini:

(12)   Menyadari makin sulitnya mencari tambahan penghasilan, Djo Koplak senantiasa memasang kuping lebar-lebar. Barangkali ada info pekerjaan sampingan yang bisa menambah isi kantongnya. Dia tak ragu menanyakan hal itu kepada teman-temannya, kalau-kalau ada obyekan jadi makelar atau apa saja asal ada duit masuk. (RB, 22/02/2007)

(13)   Kini, setelah bangunan itu jadi, belum tampak ada kegiatan pindahan, atau tanda-tanda rumah itu akan ditempati. Karena terdorong rasa penasaran, Djo Koplak berinisiatif mengajak teman-temannya melihat-lihat keadaan rumah tengah hari. (RB,  03/02/2007)

Pada wacana (12) satuan lingual nomina penghasilan yang telah disebut terdahulu pada kalimat pertama digantikan secara berturut-turut oleh satuan lingual nomina pula yaitu kata isi kantong dan duit masuk yang disebutkan kemudian dalam kalimat yang kedua dan ketiga. Sementara itu, pada wacana (13) nomina bangunan disubstitusi dengan nomina rumah.


C.1.2.2 Substitusi verbal
Substitusi verbal merupakan penggantian satuan lingual yang berkategori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lainnya yang juga berkategori verba. Misalnya, kata melintas digantikan dengan kata lewat pada wacana (14) di bawah ini.

(14)   Tapi bagi Djo Koplak dan teman-temannya yang lebih mengasyikkan adalah bisa menggodain cewek-cewek yang melintas di dekat situ. Tapi tentu saja mereka harus hati-hati jika akan mengusili cewek-cewek yang lewat. (RB, 06/02/2007)

Pada wacana (14) satuan lingual melintas dan lewat diasumsikan sebagai tindakan yang sama. Dalam wacana (14) melintas dan lewat diartikan sebagai orang-orang yang berjalan kaki melintasi atau melewati jalan kampung.
C.1.2.3 Substitusi frasal
Substitusi frasal yaitu penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satuan lingual lainnya yang berupa frasa. Substitusi frasal ini misalnya tampak pada wacana (15), frasa Djo Koplak dan Ali Djohamzah yang terletak pada kalimat pertama paragraf pertama disubstitusi dengan frase dua sahabat pada kalimat kedua paragraf kedua.

(15)   Djo Koplak dan Ali Djohamzah kebagian KKN di daerah Rembang. Semula keduanya tenang-tenang saja, tapi begitu ditempatkan di daerah Terjan barulah keduanya nyengir. Selain daerahnya gersang, sepi, setiap hari mereka hamper dipastikan tajk ketemu sayur-mayur, itu yang membuat Ali lemas, karena dia terbiasa dengan menu sayur-mayur, kini berubah dengan menu ikan laut.
    Tidak itu saja, di desa tempat mereka KKN, keduanya dianggap orang super, bias mngatasi segalanya, bahkan ada yang menganggapnya sakti, bisa mengobati, dan lainnya. Tentu saja hal ini membuat repot dua sahabat itu. Sering keduanya direpotkan hal-hal yang di luar dugaan. (RB, 27/01/2007)

C.1.2.4 Substitusi klausal
Substitusi klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu yang berupa klausa atau kalimat dengan satuan lingual lainnya yang berupa kata atau frase. Pada wacana (16) dibawah ini terdapat substitusi klausal, yaitu satuan lingual begitulah. Kalimat pertama dan kedua yang berupa satuan lingual klausa atau kalimat itu disubstitusi oleh satuan lingual lain pada kalimat ketiga yang berupa kata begitulah. Atau sebaliknya, kata begitulah pada kalimat ketiga menggantikan klausa atau kalimat pada tuturan pertama dan kedua.

(16)   Jam tujuh kurang seperempat Djo Koplak berangkat ke sekolah. Di pertigaan kampung, seperti biasa, dia akan bertemu teman sekelasnya, Bagus namanya. Begitulah setiap hari. (RB, 19/01/2007)

Dari contoh-contoh kohesi gramatikal di atas yang melalui penyulihan atau substitusi, baik substitusi nominal, verbal, frasal, maupun klausal, selain mendukung kepaduan wacana juga mempunyai fungsi lain yang sangat penting. Penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana itu juga berfungsi untuk (1) menghadirkan variasi bentuk, (2) menciptakan dinamisasi narasi, (3) menghilangkan kemonotonan, dan (4) memperoleh unsur pembeda. (Sumarlam, 2003:30).
C.1.3 Elipsis
Pelesapan (ellipsis) adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat. Contoh pelesapan dalam wacana RB diantaranya:

(17)   GIGI Djo Koplak tinggal tiga biji. Yang nempel di bagian atas dua, sisanya di bawah. Susah ula jika makan. Sering makanan yang dikunyah belum lembut, terpaksa ditelan. (RB, 10/01/2007)

(18)   Hari itu uang Djo benar-benar sudah tipis, uang yang digenggamnya hanya berupa receh hasil tabungannya di rak buku bulan ini, padahal ia harus hidup sampai tiga hari ke depan, belum lagi ia harus fotokopy tugas kuliah. Untuk pinjam uang kepada Jeng Minul dia malu, kepada Sastro, Paijo, atau Panjul, mereka juga senasib. (RB, 28/02/2007)

(19)   Teman-temannya heran terhadap apa yang dilakukannya. Ketika ditanya oleh Paijo kenapa ia membuang-buang makanan, dengan enteng Djo malah menjawab “Ada deh…”. Panjul yang juga tak tahu maksud Djo ikut bertanya, namun dengan sepele Djo menjawab “Adaa aja…!”. Pertanyaan Sastro juga dijawabnya, “Mau tau aja…!”.  (RB, 28/02/2007)

Pada wacana (17) terdapat pelesapan satuan lingual yang berupa kata, yaitu kata gigi yang berfungsi sebagai subjek. Subjek yang sama itu dilesapkan sebanyak dua kali, yaitu pada kalimat kedua sebelum kata yang pada klausa pertama dan sebelum kata sisanya pada klausa kedua. Di dalam analisis wacana, unsur (konstituen) yang dilesapkan itu biasa ditandai dengan konstituen nol atau zero (atau dengan lambang Ф) pada tempat terjadinya pelesapan unsur tersebut. Dengan cara seperti itu maka peristiwa pelesapan pada wacana (17) dapat direpresentasikan menjadi (17a), dan apabila tuturan itu kembali dituliskan dalam bentuknya yang lengkap tanpa ada pelesapan maka akan tampak seperti (20b) sebagai berikut.
    
(17a)        GIGI Djo Koplak tinggal tiga biji. Ф Yang nempel di bagian atas dua, Ф sisanya di bawah. Susah ula jika makan. Sering makanan yang dikunyah belum lembut, terpaksa ditelan.

(17b)GIGI Djo Koplak tinggal tiga biji. Gigi yang nempel di bagian atas dua, gigi sisanya di bawah. Susah ula jika makan. Sering makanan yang dikunyah belum lembut, terpaksa ditelan.

Tampak pada analisis tersebut bahwa dengan terjadinya peristiwa pelesapan, seperti pada (17) atau (17a), maka tuturan itu menjadi lebih efektif, efisien, wacananya menjadi padu (kohesif), dan memotivasi pembaca untuk lebih kreatif menemukan unsur-unsur yang yang dilesapkan, serta praktis dalam berkomunikasi. Fungsi-fungsi semacam itu tentu tidak ditemukan pada tuturan (17b), sekalipun dari segi informasi lebih jelas atau lengkap daripada (17) dan (17a).
Pada wacana (18) terjadi pelesapan satuan lingual berupa frasa pinjam uang, yang juga berfungsi sebagai predikat dan objek. Pelesapan itu terjadi tiga kali pada kalimat kedua, yaitu pada awal klausa kedua, ketiga, dan keempat. Dengan demikian, wacana (18) tersebut dapat direpresentasikan kembali menjadi (18a). Apabila unsur-unsurnya tidak dilesapkan akan menjadi (18b) seperti di bawah ini.

(18a)        Hari itu uang Djo benar-benar sudah tipis, uang yang digenggamnya hanya berupa receh hasil tabungannya di rak buku bulan ini, padahal ia harus hidup sampai tiga hari ke depan, belum lagi ia harus fotokopy tugas kuliah. Untuk pinjam uang kepada Jeng Minul dia malu, Ф kepada Sastro, Ф Paijo, atau Ф Panjul, mereka juga senasib.

(18b)Hari itu uang Djo benar-benar sudah tipis, uang yang digenggamnya hanya berupa receh hasil tabungannya di rak buku bulan ini, padahal ia harus hidup sampai tiga hari ke depan, belum lagi ia harus fotokopy tugas kuliah. Untuk pinjam uang kepada Jeng Minul dia malu, pinjam uang kepada Sastro, pinjam uang Paijo, atau pinjam uang Panjul, mereka juga senasib.

Pada wacana (19) juga terdapat pelesapan. Satuan lingual yang dilesapkan berupa klausa, yang terdiri atas kata tugas (kenapa), subjek (ia), predikat (membuang-buang), dan objek (makanan). Dalam hal ini, demi keefektifan kalimat, kepraktisan, dan efisiensi bahasa serta mengaktifkan pemikiran mitra bicara terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam tuturan, maka perlu dilakukan pelesapan. Wacana (19) dapat direpresentasikan menjadi wacana (19a). Apabila klausa itu tidak dilesapkan justru akan menghasilkan tuturan yang tidak efektif, tidak praktis, dan tidak efisien, seperti terlihat pada wacana (19b).

(19a)        Teman-temannya heran terhadap apa yang dilakukannya. Ketika ditanya oleh Paijo kenapa ia membuang-buang makanan, dengan enteng Djo malah menjawab “Ada deh…”. Panjul yang juga tak tahu maksud Djo ikut bertanya, Ф namun dengan sepele Djo menjawab “Adaa aja…!”. Pertanyaan Sastro Ф juga dijawabnya, “Mau tau aja…!”.

(19b)Teman-temannya heran terhadap apa yang dilakukannya. Ketika ditanya oleh Paijo kenapa ia membuang-buang makanan, dengan enteng Djo malah menjawab “Ada deh…”. Panjul yang juga tak tahu maksud Djo ikut bertanya kenapa ia membuang-buang makanan namun dengan sepele Djo menjawab “Adaa aja…!”. Pertanyaan Sastro kenapa ia membuang-buang makanan juga dijawabnya, “Mau tau aja…!”.
Mengingat pertanyaan yang ingin disampaikan Panjul dan Sastro sama dengan pertanyaan Paijo, maka pertanyaan yang sama itu tidak perlu disebutkan kembali secara utuh atau lengkap. Hal ini dilakukan justru untuk menghasilkan wacana yang padu secara gramatikal dan semantis.
C.1.4 Konjungsi
Konjungsi yaitu salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan yang lain. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa kata, frasa atau klausa, kalimat, paragraf. Berikut ini contoh-contoh konjungsi yang dimanfaatkan dalam wacana RB.

(20)   Setelah kumpul keluarga di luar kamar, pamannya langsung tertawa lepas mengingat ulah Jeng Minten. Dan ketika diceritakan pada bapaknya dan semua saudranya dengan kompak mereka juga tidak bisa menahan tawa. (RB, 13/01/2007)

(21)   Ketika itu Djo dan Pongkring mengail ikan di sungai. Tapi hampir tiga jam memancing, seekor ikan pun tak didapat. Mereka pulang menjelang maghrib. Djo diajak Pongkring mampir dulu, sebab istri Pongkring, Midul, membuat pecel. Djo pun ditawari pecel itu. Pikirannya melayang semasa remajanya. Yakni suatu kali Djo makan pecel di dalam kereta api jurusan Solo-Wonogiri. Enak dan nikmat sekali, dan ada rasa harumnya. Karena pecel itu dibungkus dengan daun jati. (RB,10/01/2007)

(22)   Teman-temannya yang melihat hanya bengong, dan memaklumi karena ayam yang disembelih adalah oleh-oleh orang tua Djo. Namun yang terjadi beberapa detik kemudian, Djo malah nggubras-nggubras, merasa aneh dengan daging yang disantapnya, setelah itu ia menyumpah-nyumpah setelah mengeluarkan kunyahan daging dari mulutnya. (RB, 27/02/2007)

(23)   Sebetulnya Minul sudah diminta naik motor sendiri, biar tidak merepotkan terus. Tetapi Minul masih merasa trauma, karena pernah jatuh saat naik motor. (RB, 24/02/2007)

(24)   Alkisah, pada sore itu di tempat tambal ban milik Pak Domo ada ribut-ribut. Pak Domo yang tukang tambal ban itu kehilangan korek api yang bisa berbunyi ceklik-ceklik, hingga marah besar. Pertama yang dituduh mencuri anaknya, lalu Pongkring, kemudian Burkim. Tapi, mereka semua mengelak. (RB, 01//02/2007)

(25)   Selain saran dokter untuk tranfusi, tetangga Djo menyarankan agar dicarikan jambu kluthuk sebagai alternatif penanganan DB, karena diakui bahwa buah ini mampu meningkatkan jumlah trombosit. Djo lari ke apotek untuk menebus obat, dan setelah cukup lama menanti karena banyaknya antrean, kembalilah dia ke RS menyerahkan obat tersebut kepada perawat.
     Setelah itu, larilah dia ke PMI. Hanya saying, ternyata persediaan darah golongan AB untuk bapaknya habis. Kerabat-kerabatnya dikontak untuk bisa membantu menjadi donor bagi yang golongan darahnya AB. Ternyata, Pongkring, salah seorang temannya siap. Tinggal persoalan jambu kluthuk yang belum diselesaikan.(RB, 02/02/2007)

Konjungsi dan pada wacana (20) menyatakan makna penambahan (aditif), yaitu berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kirinya dengan klausa yang mengandung kata dan itu sendiri atau klausa berikutnya.
Konjungsi karena pada wacana (21) berfungsi untuk menyatakan hubungan akibat-sebab atau hubungan kausal antara klausa yang berada di sebelah kirinya, yaitu Enak dan nikmat sekali, dan ada rasa harumnya sebagai akibat, dengan klausa berikutnya yaitu, pecel itu dibungkus dengan daun jati sebagai sebab.   Konjungsi malah pada wacana (22) menyatakan makna kelebihan (eksesif), yaitu keterangan pada kalimat kedua merupakan reaksi tambahan yang berlebihan terhadap kalimat-kalimat sebelumnya.
Pada wacana (23) terdapat konjungsi tetapi yang berfungsi menyatakan hubungan pertentangan. Klausa yang dipertentangkan ialah sebetulnya Minul sudah diminta naik motor sendiri dengan Minul masih merasa trauma, karena pernah jatuh saat naik motor.
Konjungsi lalu dan kemudian pada wacana (24) menyatakan makna urutan (sekuensial). Urutan peristiwa yang terjadi tentang pencarian pelaku pencurian korek api, dimulai dari yang dituduh mencuri adalah anaknya Pak Domo, lalu Pongkring, kemudian Burkim.
Sementara itu, konjungsi setelah pada wacana (25) berfungsi untuk menyatakan waktu.

C.2 Aspek Leksikal
Kohesi Leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu (1) repetisi (pengulangan), (2) sinonimi (padan kata), (3) kolokasi (sanding kata), (4) hiponomi (hubungan atas-bawah), (5) antonimi (lawan kata), dan (6) ekuivalensi (kesepadanan).
C.2.1 Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, repetisi dapat dibedakan menjadi delapan macam, yaitu repetisi epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis (Keraf, 1994: 127-128).


C.2.1.1 Repetisi epizeuksis
 Repetisi epizeuksis yaitu pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut. Repetisi epizeuksis dapat ditemukan dalam wacana RB seperti pada data di bawah ini :

(26)   Djo Koplak penggemar binatang, khususnya kucing. Pernah suatu masa kucingnya mencapai jumlah 18 ekor. Namun lambat laun, kucingnya meninggalkan rumah satu per satu. Maka sekarang tinggal beberapa ekor saja. Djo Koplak sadar, kucingnya pergi karena dimusuhi anjing Pak Gambleh, tetangganya. (RB, 20/02/2007)

(27)   Djo Koplak menyebut Pongkring, rekan kerjanya sebagai penggemar gratisan. Rekan-rekan lain malah menjuluki Pongkring si Gratis Mania. Apa saja yang serba gratis, mulai dari numpang mobil teman, makan di rumah teman, Pongkring pasti suka. Kalau teman-teman kantornya ingin mengadakan refreshing bersama, pergi ke suatu tempat, Pongkring pasti bertanya, “Bayar, nggak?” Entah siapa yang memberi komando, Djo dan rekan-rekan serempak menjawab “Naiknya gratiiiiis! Turunnya bayaaaaar!”  (RB, 18/01/2007)

(28)   Pak Timbul, ayah Djo Koplak dirawat di rumah sakit, karena badannya demam dengan suhu tinggi. Selain diobati, Pak Timbul juga dikompres agar suhu badannya turun. Pagi hari, dokter memeriksa kondisi Pak Timbul menyimpulkan, hasil diagnosis menunjukkan serangan demam berdarah. (RB, 02/02/2007)

(29)   Lima menit, sepuluh menit bahkan sampai tiga puluh menit ditunggu hujan belum juga reda, Do Koplak jengkel dan berniat mengambil pakaiannya. Dengan menaiki tangga dilihatnya pakaian yang tadi dilemparkannya ke atas genting. Namun alangkah kagetnya Djo karena pakaian yang tadi dilemparkannya hilang tanpa bekas. Selidik punya selidik ternyata pakaian Djo Koplak diambil orang, tidak ada yang melihat karena keadaannya gelap ditambah hujan. Djo Koplak jadi tambah sedih sekaligus jengkel kini bukan hanya hujan yang membuatnya jengkel, tapi karena pakaiannya ikut-ikutan hilang. (RB, 09/02/2007)

Pada wacana (26), (27), (28), dan (29), kata-kata kucing, gratis, Pak Timbul, dan pakaian, diulang beberapa kali secara berturut-turut untuk menekankan pentingnya kata tersebut dalam konteks tuturan itu.
C.2.1.2 Repetisi tautotes
Repetisi tautotes ialah pengulangan satuan lingual (sebuah kata) beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Pada wacana (30) berikut ini, kata tawa diulang tiga kali dalam sebuah konstruksi.

(30)   “Itu lho Nduk yang di sebelahnya, makanya jangan langsung tubruk saja,” terang pamannya yang langsung tertawa hingga batuk-batuk. Setelah kumpul keluarga di luar kamar, pamannya langsung tertawa lepas mengingat ulah Jeng Minten. Dan ketika diceritakan pada bapaknya dan semua saudaranya dengan kompak mereka juga tidak bisa menahan tawa. (RB, 13/01/2007)

C.2.1.3 Repetisi anafora
Repetisi anafora ialah pengulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Contoh repetisi anafora dapat dilihat pada wacana berikut ini.

(31)   “Dua batang rokok kalau bisa membuat tersenyum wanita yang tidak kita kenal,” ujar Pongkring memulai tantangannya.
“Empat batang rokok kalau bisa bikin tertawa,” tambah Plonthos tak mau kalah.
“Berani satu bungkus rokok kalau ceweknya mau mendekat kesini?” Djo Koplak berujar iseng saja.
(RB, 06/02/2007)

Pada wacana (31) di atas terjadi repetisi anafora berupa pengulangan kata rokok yang terdapat di awal kalimat. Keterangan mengenai kata rokok tersebut didahului dengan keterangan jumlah yang berfungsi memperjelas  kalimat.
C.2.1.4 Repetisi epistrofa
Repetisi epistrofa ialah pengulangan satuan lingual kata atau frasa pada akhir baris (dalam puisi) atau akhir kalimat (dalam prosa) secara berturut-turut. Di bawah ini contoh repetisi epistrofa yang terdapat dalam RB.

(32)   Malamnya Djo segera menulis surat lamaran kerja. Seumur-umur baru kali ini Djo membuat surat lamaran kerja. Untungnya, dulu sewaktu sekolah, ia pernah diajarkan oleh guru bahasa Indonesia-nya cara membuat surat lamaran kerja. (RB,12/02/2007).


Pada wacana (32) di atas tampak satuan lingual surat lamaran pekerjaan diulang tiga kali pada tiap akhir kalimat.
C.2.1.5 Repetisi anadiplosis
Repetisi anadiplosis yaitu pengulangan kata atau frasa terakhir dari baris atau kalimat itu menjadi kata atau frasa pertama pada baris atau kalimat berikutnya. Dalam RB, wacana yang mengandung repetisi anadiplosis terdapat pada contoh di bawah ini.

(33)    Minul berlari dengan tak lupa melepas sepatu dan menekuk celananya. Segera dia nangkring di atas motor. Motor melaju pelan, karena hujan deras. Selang beberapa menit perjalanan, Minul curiga, karena tidak seperti biasa kakaknya lewat jalan ini. (RB, 24/02/2007)

(34)    Oalah.... ternyata Minul salah orang. Orang yang dikira kakaknya ternyata orang lain yang juga hendak menjemput seseorang di kampus Minul. (RB, 24/02/2007)
Pada wacana (33) dan (34) di atas, kata motor dan orang pada akhir kalimat pertama ditulis kembali atau diulang menjadi kata pertama pada kalimat kedua atau kalimat berikutnya.
C.2.1.6 Repetisi mesodiplosis
Repetisi mesodiplosis ialah pengulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut. Contoh repetisi mesodiplosis dapat dilihat di bawah ini.

(35)    Suatu hari Djo tidak masuk kerja karena kepalanya pusing. Tapi siangnya, waktu Djo mampir untuk menengok, ternyata Pongkring sudah baikan. Untuk menyenangkan sobatnya yang baru sembuh dari pusing, lalu Djo mengajak Pongkring untuk makan-makan. (RB, 18/01/2007)

(36)    Dengan kedatangannya itu, Djo pun ingin pamer akan kehebatan keponakannya. Biasa, orang tua sering suka begitu. Djo ingin pamer kalau anaknya selalu dapat nilai bagus di sekolahnya. Seperti Bu Marsidah, tetangganya yang suka pamer kehebatan anaknya. Djo kali ini ingin membalas dengan pamer kehebatan keponakannya. (RB, 23/02/2007)


Pada wacana (35) di atas terdapat pengulangan satuan lingual Djo yang terletak di tengah-tengah kalimat secara berturut-turut. Pengulangan subjek Djo dimaksudkan untuk menekankan pentingnya pelaku utama dalam cerita tersebut yaitu Djo Koplak.
Pada wacana (36) terdapat satuan lingual pamer yang terletak di tengah-tengah kalimat secara berturut-turut. Pengulangan kata pamer dimaksudkan untuk menekankan makna satuan lingual tersebut, yaitu kebiasaan atau sifat. Tingkah laku pamer dalam wacana (36) dilakukan oleh dua orang yaitu Djo dan Bu Marsidah.
C.2.2 Sinonimi
Sinonimi diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana.
Kohesi leksikal sinonimi atau persamaan kata, dapat dilihat pada data wacana RB berikut ini:

(37)   Suatu hari, ada seorang wanita cantik mencegat Djo. Seperti lelaki lainnya, kalau melihat perempuan cantik, langsung saja pasang muka ramah. (RB, 06/01/2007)     

(38)   Ketika itu Djo dan Pongkring mengail ikan di sungai. Tapi hampir tiga jam memancing, seekor ikan pun tak didapat. (RB,10/01/2007)

(39)   Apa yang terjadi? Djo Koplak sedang mencopot gelang karet yang nyanthol di gigi atasnya. Benda lentur itu dipertunjukkan di hadapan Pongkring dan istrinya. (RB, 10/01/2007)

(40)    Djo girang bukan kepalang karena duikirim yayasan tempatnya bekerja untuk mengunjungi daerah Lawen, desa yang indah, sejuk, alam yang masih perawan, adapt istiadat yang masih terjaga dan warganya yang masih lugu.Sudah lama Djo memimpikan bias mengunjungi daerah tersebut, karena disitu tinggal salah seorang kenalannya Mas Toto Lawen, yang konon memiliki rumah yang sangat antic, karena dibangunkan oleh Romo Mangun almarhum. Djo ingin sekali melihat banguinan itu secra langsung, bukan hanya difoto.
       Djo Koplak berangkat bersama Pongkring, Jinggo dan juga Kris TVRI. Berempat mereka mengunjungi daerah di wilayah paling ujung utara Banjarnegara. (RB, 29/01/2007)

Wacana (37) dan (38) terdapat sinonimi antara kata dan kata, yaitu wanita bersinonim dengan perempuan dan mengail bersinonim dengan memancing.
Wacana (39) terdapat contoh sinonimi frase dengan frase, yaitu frase gelang karet dengan frase benda lentur. Wacana (40) terdapat sinonimi antara kata dan frase, yaitu kata Lawen yang bersinonim dengan frase ujung utara Banjarnegara.
C.2.3 Antonimi
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain; atau satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Antonimi disebut juga oposisi makna. Pengertian oposisi makna mencakup konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya kontras makna saja.
Berdasarkan sifatnya, oposisi makna dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) oposisi mutlak, (2) oposisi kutub (3) oposisi hubungan, (4) oposisi hirarkial, dan (5) oposisi majemuk. Oposisi makna atau antonimi juga merupakan salah satu aspek leksikal yang mampu mendukung kepaduan wacana secara semantik.
Beberapa contoh berikut merupakan oposisi makna yang ditemukan dalam wacana RB, diantaranya:

(41)   “Pak numpang tanya. Rumah Pak Toto dimana ya?”. “Ya di sini,” jawabnya enteng. (RB, 29/01/2007)

(42)   Paginya, Djo dan teman-temannya itu pergi ke sekolah. Ketika pulang, ia langsung ke tempat tambal ban. (RB, 01/02/2007)

(43)   Entah siapa yang memberi komando, Djo dan rekan-rekan serempak menjawab “Naiknya gratiiiiis!. Turunnya bayaaar!”.
(RB, 18/01/2007)

(44)   Ketika jam pelajaran sudah dimulai, Djo tidak tahu dirinya diawasi gurunya, sementara semua mata murid juga tertuju padanya yang tengah diperhatikan gurunya itu. Si guru pun berjalan mendekatinya, pelan, kemudian pundak kiri Djo disentuh pak guru. Dengan bisik-bisik gurunya menyuruh Djo keluar sebentar.
(RB, 19/01/2007)

Pada wacana (41) dan (42) diatas terdapat oposisi mutlak antara kata tanya dengan jawab dan pergi dengan pulang. Sedangkan wacana (43) terdapat oposisi kutub antara kata naik dengan kata turun. Kedua kata tersebut dikatakan beroposisi kutub sebab terdapat gradasi diantara oposisi keduanya, yaitu adanya realita yang lain, selain naik dan turun, juga ada sangat naik, agak naik, agak turun, dan sangat turun.  
Pada wacana (44) terdapat oposisi hubungan antara murid dengan guru. Guru sebagai realitas dimungkinkan ada karena kehadirannya dilengkapi oleh murid atau sebaliknya. Oposisi hubungan sebagai salah satu aspek leksikal dapat mendukung kepaduan wacana secara leksikal dan semantik, sehingga kehadirannya dapat menghasilkan wacana yang kohesif.
C.2.4. Kolokasi
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam satu domain atau jaringan tertentu.
(45)   Pak Timbul, ayah Djo Koplak dirawat di rumah sakit, karena badannya demam dengan suhu tinggi. Selain diobati, Pak Timbul juga dikompres agar suhu badannya turun. Pagi hari, dokter memeriksa kondisi Pak Timbul menyimpulkan, hasil diagnosis menunjukkan serangan demam berdarah. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan trombositnya kurang sehingga perlu tranfusi. Djo Koplak pun disarankan agar segera mencari trombosit ke markas PMI, dan juga diberi resep untuk menebus obat di apotek. (RB, 02/02/2007)

Pada wacana (45) di atas tampak pemakaian kata-kata rumah sakit, dikompres, suhu badan, dokter, diagnosis, demam berdarah, laboratorium, transfusi, trombosit, PMI, resep, obat, dan apotek, yang dipakai dalam suatu domain atau jaringan bidang kesehatan atau kedokteran yang saling berkolokasi dan mendukung kepaduan wacana tersebut.
C.2.5 Hiponimi
Hiponimi (hubungan atas-bawah) diartikan sebagai satuan bahasa (kata, frase, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Unsur atau satuan lingual yang mencakupi beberapa unsur atau satuan lingual yang berhiponim itu disebut hipernim atau superordinat. Contoh  hiponimi dapat diperhatikan pada penggalan data wacana RB berikut.

(46)          Sebagai seorang yang hanya lulusan SD, Djo Koplak sadar diri. Ia bersyukur bisa mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang serabutan. Kadang ia menjadi buruh tanah, buruh bangunan, bahkan kuli angkut di pasar. (RB, 12/02/2007)

(47)          Djo Koplak penggemar binatang, khususnya kucing. Pernah suatu masa kucingnya mencapai jumlah 18 ekor. Namun lambat laun, kucingnya meninggalkan rumh satu per satu. Maka sekarang tinggal beberapa ekor saja. Djo Koplak sadar, kucingnya pergi, karena dimusuhi anjing Pak Gambleh, tetangganya. (RB, 20/02/2007)

(48)          ”Sudah kelas berapa? Ah mesti pinter, kemarin dapat nilai     berapa?” tanya Bu Mar lagi.
”Kelas empat, kemarin dapat seratus,” jawab Ninik.
”Lha, bener kan. Anak ini memang pinter kok Bu,” ujar Djo   Koplak.
”Wah, pinter banget. Anak saya saja paling dapat nilai 90.            Pelajaran apa yang dapat nilai seratus?” ujar Bu Mar.
Bahasa Indonesia dan Matematika,” ujar Ninik dengan rada minder. (RB, 23/02/2007)

Pada wacana (46) di atas yang merupakan hipernim atau superordinatnya adalah pekerjaan, dalam hal ini lebih khusus yaitu pekerjaan serabutan. Pekerjaan-pekerjaan yang tergolong dalam pekerjan serabutan adalah buruh tanah, buruh bangunan, dan kuli angkut.
Wacana (47) yang merupakan hipernim atau superordinatnya adalah binatang. Hiponim dari binatang dalam wacana tersebut ialah kucing dan anjing. Sedangkan pada wacana (48) yang termasuk hipernim atau superordinatnya adalah pelajaran. Hiponim dari pelajaran dalam wacana itu adalah bahasa Indonesia dan matematika.
Hubungan antarunsur bawahan atau antarkata yang menjadi anggota hiponim itu disebut ”kohiponim”. Fungsi hiponimi adalah untuk mengikat hubungan  antarunsur atau antarsatuan lingual dalam wacana secara semantis, terutama untuk menjalin hubungan makna atasan dan bawahan, atau antara unsur yang mencakupi dan unsur yang dicakupi.


C.3 Diksi atau Pilihan Kata
Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan; dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dan situasi dan nilai rasa yang dimilki kelompok masyarakat pendengarnya (Keraf 1984:24).
Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggambarkan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
Pemakaian diksi dimaksudkan untuk memudahkan dan mendapatkan kesesuaian tujuan yang akan diperoleh. Pengarang ingin mengekspresikan pengalaman atau imajinasinya secara padat dan intens yang berfungsi sebagai gambaran penjelas dalam beraneka pilihan kata. Contoh dalam RB:

(49)   Djo Koplak seorang pemuda yang hobi menggoda cewek. Dia sangat puas jika korbannya benar-benar takluk, takut, malu, atau terkencing-kencing karena tak dapat menahan tawa. Sasarannya siapa pun cewek yang ia lihat, tak peduli cakep, super jelek, mulus, kerempeng, atau gendut semua dilalapnya. (RB, 05/01/2007)

(50)   Djo Koplak sedang berbunga-bunga, setelah sekian lama njomblo kini telah menemukan belahan hatinya, Minul namanya. (RB, 25/01/2007)

Penggalan wacana (49) dan (50) di atas terdapat dalam artikel RB yang berjudul “Buaya darat…” dan “Hp pembawa sial”. Pilihan kata yang berhubungan dengan percintaan atau asmara tersebut terlihat menonjol. Kata-kata tersebut diantaranya, cewek, cakep, mulus, super jelek, menggoda, njomblo, berbunga-bunga, dan belahan hati. Pemilihan kata-kata tersebut memang dipakai penulis untuk lebih menekankan istilah yang sebenarnya dalam pemakaian kalimat tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya. Kata-kata tersebut sering dijumpai dan digunakan dalam kaitannya dengan masalah kisah-kasih remaja atau hubungan percintaan. Hal ini berfungsi untuk menimbulkan ciri khas yang berbeda dalam tiap bidang tertentu.
Penggalan wacana (51) di bawah ini terdapat dalam artikel RB yang berjudul “Hp pembawa sial”. Pilihan kata yang digunakan berhubungan dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Kata-kata tersebut diantaranya, halo, telepon, SMS, hp, nelepon, dan panggilan masuk.


(51)   Djo Koplak sedang berbunga-bunga, setelah sekian lama njomblo kini telah menemukan belahan hatinya, Minul namanya. Tiada hari tanpa tawa dan canda, dunia seakan milik mereka berdua. Djo Koplak masih berstatus mahasiswa sedangkan Minul sudah bekerja. Setiap hari, setiap saat, Minul selalu telepon dan SMS. Djo Koplak senang-senang saja punya pacar yang sangat peerhatian.
       Namun kebiasaan Minul yang suka telepon setiap saat berakiBat Djo Koplak bernasib sial. Ceritanya pagi itu seperti biasa Djo Koplak pergi ke kampus sambil mengendarai motornya. Di tengah jalan seperti biasa hp-nya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Djo Koplak langsung paham kalau yang nelepon pasti Minul pacarnya. Hanya melepas helm tanpa berhenti dan menepikan motornya terlebih dulu Djo Koplak menjawab panggilan telepon.
      Halo sayang, lagi di mana?” suara dari hp Djo Koplak manja. (RB, 25/01/2007)

Pemakaian diksi tersebut dimaksudkan untuk memudahkan dan mendapatkan kesesuaian tujuan yang akan diperoleh. Pengarang ingin mengekspresikan pengalaman atau pengetahuannya secara padat dan intens. Penggunaan kata-kata tersebut berfungsi sebagai gambaran penjelas melalui beraneka pilihan kata yang berhubungan dengan tema pembicaraan.

D. Rangkuman Hasil Penelitian
Dari keseluruhan data dan analisis data di atas dapat diklasifikasikan jenis-jenis data sebagai berikut:
1.      Aspek Gramatikal
a.       Referensi pronomina persona menggunakan unsur-unsur kohesi kamu,dia ia, aku, mereka, dan kita.
b.      Referensi demonstratif terbagi atas pengacuan demonstratif tempat, yaitu menggunakan unsur-unsur kohesi itu dan di sana serta pengacuan demonstratif waktu, yaitu menggunakan unsur-unsur kohesi kini.
c.       Referensi komparatif menggunakan unsur-unsur kohesi berupa satuan lingual lain halnya, seperti, dan kayak.
d.      Substitusi nominal menggunakan unsur-unsur kohesi penghasilan di substitusi dengan duit masuk, dan bangunan di substitusi dengan rumah.
e.       Substitusi verbal menggunakan unsur-unsur kohesi satuan lingual melintas di substitusi dengan satuan lingual lewat
f.       Substitusi frasal menggunakan unsur-unsur kohesi Djo Koplak dan Ali Djomzanah di substitusi dengan frasa dua sahabat.
g.      Substitusi klausal menggunakan unsur kohesi begitulah sebagai substitusi dari klausa Jam tujuh kurang seperempat Djo Koplak berangkat ke sekolah. Di pertigaan kampung, seperti biasa, dia akan bertemu teman sekelasnya, Bagus namanya.
h.      Elipsis menggunakan unsur-unsur kohesi satuan lingual kata gigi, frasa pinjam uang, dan klausa kenapa ia membuang-buang makanan.
i.        Konjungsi banyak dijumpai dalam wacana RB. Diantaranya menggunakan unsur-unsur kohesi dan, karena, malah, tetapi, lalu, kemudian,dan setelah.

2.      Aspek Leksikal
a.       Repetisi Epizeuksis menggunakan unsur-unsur kohesi kucing, gratis, Pak Timbul, dan pakaian.
b.      Repetisi tautotes menggunakan unsur kohesi tawa.
c.       Repetisi anafora menggunakan unsur kohesi rokok.
d.      Repetisi anadiplosis menggunakan unsur-unsur kohesi motor dan orang.
e.       Repetisi mesodiplosis menggunakan unsur-unsur kohesi Djo dan pamer.
f.       Repetisi epistrofa menggunakan unsur kohesi surat lamaran pekerjaan.
g.      Sinonimi kata dengan kata menggunakan unsur-unsur kohesi satuan lingual wanita dengan perempuan, serta mengail dan memancing.
h.      Sinonimi kata dengan frase atau sebaliknya menggunakan unsur kohesi Lawen dengan ujung utara Banjarnegara.
i.        Sinonimi frase dengan frase menggunakan unsur kohesi gelang karet dengan benda lentur.
j.        Antonimi oposisi mutlak menggunakan unsur-unsur kohesi  tanya dengan jawab, serta pergi dengan pulang.
k.      Antonimi oposisi kutub menggunakan unsur kohesi naik dengan turun.
l.        Antonimi oposisi hubungan menggunakan unsur kohesi murid dengan guru.
m.    Kolokasi menggunakan unsur-unsur kohesi bidang kesehatan atau kedokteran, kata-katanya diantaranya rumah sakit, dikompres, suhu badan, dokter, diagnosis, demam berdarah, laboratorium, transfusi, trombosit, PMI, resep, obat, dan apotek.
n.      Hiponimi menggunakan unsur-unsur kohesi satuan lingual buruh tanah, buruh bangunan dan kuli angkut untuk menyatakan hipernim dari pekerjaan (serabutan). Hiponim kucing dan anjing untuk menyatakan hipernim dari binatang, serta hiponim bahasa Indonesia dan matematika untuk menyatakan hipernim dari pelajaran.
3.      Diksi atau pilihan kata
Diksi atau pilihan kata yang terdapat dalam wcana RB diantaranya berhubungan dengan percintaan atau asmara dan komunikasi telepon yang terlihat menonjol. Kata-kata yang berkaitan dengan asmara atau percintaan diantaranya, cewek, cakep, mulus, super jelek, menggoda, njomblo, berbunga-bunga, dan belahan hati. Sedangkan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan telepon sehari-hari antara lain, halo, telepon, SMS, hp, nelepon, dan panggilan masuk.
  
 
 
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Wacana Rubrik “Blaik” sebagai wacana humor/rekreatif tidak dapat dipungkiri telah memberi secercah manfaat bagi pembacanya, paling tidak pembaca wacana ini akan merasa terhibur, di tengah arus kehidupan yang diwarnai banyak tantangan dan rintangan.
            Upaya yang dilakukan oleh para penulis wacana RB berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu. Hiburan, kelucuan, kekonyolan, dan hal-hal yang sifatnya tak masuk akal direkam untuk kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk wacana yang dapat dinikmati secara luas.
Wacana RB yang termasuk di dalam wacana narasi bersifat humor/rekreatif ini diteliti melalui pendekatan mikrostruktural. Pendekatan mikrostruktural terjabar ke dalam aspek gramatikal, aspek leksikal, dan diksi atau pilihan kata.
Pada rubrik “Blaik” banyak menggunakan pengacuan (referensi). Referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau mengikutinya. Satuan lingual itu dapat berupa persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan lingual yang berfungsi membandingkan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya).
Penggantian (substitusi) adalah penggantian satuan lingual tertentu yang telah disebut dengan satuan lingual yang lain. Dalam RB terdapat substitusi yang dibedakan menjadi substitusi nominal, verbal, dan frasal.
Pelesapan (ellipsis) adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan yang di lesapkan dalam RB berupa kata, frasa, dan klausa. Adapun fungsi pelesapan tersebut ialah untuk efektivitas dan efisiensi kalimat, mencapai aspek kepaduan wacana, untuk mengaktifkan pikiran pembaca terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa, serta untuk kepraktisan berbahasa.
Konjungsi yaitu salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan yang lain. Perangkaian unsur dalam wacana RB mempunyai bermacam-macam makna, diantaranya adalah sebab-akibat, pertentangan, kelebihan (eksesif), penambahan (aditif), urutan (sekuensial), dan waktu.
Repetisi untuk memberikan tekanan pada beberapa kata. Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, dalam RB terdapat repetisi epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, mesodiplosis, dan anadiplosis. Tidak ada repetisi simploke karena jarang terdapat dalam karangan berupa prosa.
Sinonim diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Dalam rubrik ”Blaik” sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana. Sinonim yang ditemukan adalah sinonimi antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), kata dengan kata, kata dengan frase atau sebaliknya, dan frasa dengan frasa.
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain; atau satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Antonimi disebut juga oposisi makna. Pengertian oposisi makna mencakup konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya kontras makna saja. Dalam rubrik ”Blaik” ditemukan oposisi mutlak, oposisi kutub,dan oposisi hubungan. Oposisi makna atau antonimi juga merupakan salah satu aspek leksikal yang mampu mendukung kepaduan wacana secara semantis.
Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam satu domain atau jaringan tertentu. Dalam rubrik ”Blaik” ditemukan kata-kata yang berkolokasi pada jaringan atau domain di bidang kesehatan. Misalnya rumah sakit, dikompres, suhu badan, dokter, diagnosis, demam berdarah, laboratorium, transfusi, trombosit, PMI, resep, obat, dan apotek.
Hiponimi diartikan sebagai satuan bahasa (kata, frase, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Fungsi hiponimi adalah untuk mengikat hubungan  antarunsur atau antarsatuan lingual dalam wacana secara semantis, terutama untuk menjalin hubungan makna atasan dan bawahan, atau antara unsur yang mencakupi dan unsur yang dicakupi.
Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan. Kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengarnya. Dalam rubrik ”Blaik” ditemukan kata-kata yang terlihat menonjol yang berhubungan dengan percintaan atau asmara dan bidang komunikasi telepon.
Secara garis besar wacana rubrik “Blaik” telah terjalin secara kohesif dengan aspek-aspek pendukung keutuhan wacana. Piranti-piranti kohesi tersebut digunakan oleh penulis RB untuk membangun teks yang menunjukkan hubungan antarklausa dalam kalimat dan antarkalimat dalam paragraf bahkan hubungan paragraf dalam wacana tersebut.
Motivasi yang melatari penciptaan wacana ini dimaksudkan untuk hiburan, disamping tentu saja untuk menarik konsumen, memberi wawasan, mengkritik dan sebagainya.

B. Saran
Penelitian dengan objek wacana rubrik di media ini hanya terbatas pada struktur mikro yang disertai dengan aspek kebahasaan pendukung saja. Penelitian lanjutan untuk memperdalam, memperluas dan mendeskripsikan seperti struktur makro, unsur sintaksis, kajian sosiolinguistik, atau aspek latar belakang penciptaan wacana dan seterusnya masih dapat dilakukan.




Daftar Pustaka

Abdul Rani dkk. 2006. Analisis Wacana; Sebuah Kajian Bahasa dan          Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing

Baryadi, I Praptomo. 2002. Dasar-Dasar Analisis Wacana Dalam Ilmu Bahasa.    Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli

Brown, Gillian & G. Yule. 1983. Analisis Wacana. diterjemahkan oleh I Soetikno (1996). Jakarta: Gramedia

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana; Pengantar Analisis teks media. Yogyakarta:        LKiS

Halliday & Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks ; Aspek-aspek           Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada      University Press

Keraf, Gorys. 2001.  Komposisi. Ende: Nusa Indah

----------------- 1984.  Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka         Utama

Kumalasari. 2004. “Analisis Wacana Kolom Pojok Semarang di Harian Suara        Merdeka”, Skripsi Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang

Moeliono, Anton dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai   Pustaka

Mulyana, 2005. Kajian Wacana; Teori, Metode & Aplikasi Prinsip-prinsip  Analisis Wacan., Yogyakarta: Tiara Wacana

Nababan, P.W.J. 1991. Sosiolinguistik; Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia            Pustaka Utama

Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University     Press

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada        University Press

Riswanto. 2005. “Analisis Wacana Rubrik “Nah Ini Dia””, Skripsi Fakultas           Sastra Universitas Diponegoro, Semarang

Rohmani. 2002. “Analisis Wacana Kaos Oblong Dagadu Djokdja”, Skripsi Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta   Wacana University Press

Sumadiria, AS Haris. 2006. Bahasa Jurnalistik. Bandung: Simbiosa Rekatama       Media

Sumarlam, dkk. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka         Cakra

Syamsuddin. 1992. Studi Wacana; Teori-Analisis-Pengajaran. Bandung:    Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni FPBS IKIP Bandung

Wedha. 2007. “Kohesi dan Koherensi pada Rubrik “Parodi” dalam Kompas”,        Skripsi Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang

loading...

0 Response to "KUMPULAN SKRIPSI SASTRA INGGRIS ANALISIS MIKROSTRUKTURAL RUBRIK “BLAIK” DALAM HARIAN SORE WAWASAN"

Post a Comment