INTENSITAS DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN
MEDIA ALAT PERAGA
OTHELLO SEBAGAI MEDIASI PEMBELAJARAN
BAGI PENGUASAAN KONSEP OPERASI HITUNG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Penelitian Tindakan
Dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pada
penjelasan Pasal 35 tercantum bahwa : “Pelaksanaan pendidikan tidak mungkin
terselenggara dengan baik bilamana para tenaga kependidikan dan para peserta
didik dalam Kegiatan Belajar Mengajar tidak didukung oleh sumber belajar yang
diperlukan". Salah satu sumber belajar yang sangat penting dalam hal ini
adalah alat peraga yang dapat membantu guru untuk memperjelaskan dan
memvisualkan konsep atau pengertian serta melatih untuk mencapai keterampilan
tertentu.
Penggunaan suatu alat peraga dalam proses pembelajaran
akan membantu kelancaran, efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan. Alat
peraga dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada
gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada
beberapa alasan mengapa alat peraga dapat mempertinggi proses belajar siswa.
Menurut
Suherman, dkk (2001:203), menyatakan bahwa dengan alat peraga :
- Proses Belajar Mengajar termotivasi, baik murid
maupun guru dan terutama murid minatnya akan timbul. Ia senang,
terangsang, dan tertarik terhadap proses pengajaran.
- Konsep abstrak tersajikan dalam bentuk kongkret
dan karena itu lebih dapat dipahami dan dimengerti, dan dapat ditanamkan
pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.
- Hubungan antara konsep abstrak dengan benda-benda
di alam sekitar akan lebih dapat dipahami.
- Konsep-konsep abstrak tersajikan dalam bentuk
kongkret yaitu dalam bentuk model.
Menyadari pentingnya alat peraga dalam meningkatkan
mutu keberhasilan proses pembelajaran, guru dituntut untuk menguasai
keterampilan pengembangan dan penggunaan alat peraga serta ketrampilan memilih
alat peraga yang sesuai dengan konsep yang akan diajarkan.
Menurut Muslihin (dalam Surisman A.M, 1998 : 18) :
‘Ketrampilan menggunakan alat peraga baik dalam mcmperagakan, mcmpraktekkan dan
mendemonstrasikan alat peraga, diharapkan Proses Belajar Mengajar mencapai
tujuan yang diharapkan. Didalam menggunakan alat peraga sebagai sarana
pendidikan untuk kegiatan proses pembelajaran kita perlu mengetahui
prinsip-prinsip penggunaannya. Prinsip-prinsip itu di antaranya :
- Tidak ada satu sarana alat peraga dan alat
praktek pun yang dapat sesuai untuk segala macam Kegiatan Belajar
Mengajar. Oleh karena itu guru sebaiknya melakukan pendekatan multi media,
artinya berbagai sarana atau alat dapat diupayakan untuk menanamkan konsep
sesuai dengan kemampuan siswa.
- Sarana atau alat tertentu cenderung untuk lebih
tepat menyajikan suatu pelajaran tertentu daripada sarana yang lainnya.
- Penggunaan sarana atau alat yang terlalu banyak
secara bersamaan belum tentu akan memperjelas konsep, bahkan sebaliknya,
dapat mengalihkan perhatian siswa.
- Sarana atau alat pelajaran yang akan digunakan
harus merupakan bagian yang integral dari pelajaran yang akan disajikan.
- Sarana atau alat pelajaran yang canggih belum
akan dapat mengaktifkan siswa. Oleh karena itu siswa diperlukan sebagai
peserta yang aktif.
- Penggunaan sarana alat pelajaran bukan hanya
sekedar selingan atau pengisi waktu melainkan untuk memperjelas konsep
meningkatkan keterampilan siswa.
Untuk mata pelajaran yang tujuan instruksionalnya
lebih banyak meningkatkan segi keterampilan (psikomotor) seperti mata pelajaran
matematika, alat peraga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Sctiap
konsep abstrak dalam matematika yang baru dipahami anak perlu segera diberikan
penguatan supaya mengendap, melekat dan tahan lama tertanam sehingga menjadi
miliknya dalam pola pikir maupun pola tindaknya (Ruseffendi, 2003: 226). Untuk keperluan inilah maka
diperlukan belajar melalui berbuat dan pengertian, tidak hanya sekedar hapalan
atau mengingat fakta saja yang tentunya akan mudah dilupakan dan sulit uniuk
dimiliki. Seperti ungkapan yang sering dilontarkan oleh para ahli, bahwa : saya
mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya
paham.
Karena itulah maka dalam pengajaran matematika di
Sekolah Dasar (SD) masih diperlukan penggunaan alat peraga. Sebagai guru kita
perlu mengetahui macam-macam alat peraga yang dapat dipakai dalam mengajarkan
mata pelajaran matematika, khususnya dalam pengajaran matematika di SD.
Mata pelajaran matematika pada pelaksanaannya haruslah
diupayakan dengan kondisi pembelajarannya yang kondusif dalam arti suatu
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif bahkan inovatif. Untuk menciptakan
kondisi pembelajaran yang kondusif, maka perlu ada usaha untuk memaksimalkan
dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, bahkan bila dipandang perlu
seorang guru dapat membuat sendiri alat peraga yang diperlukan. Materi pelajaran
matematika tidak hanya bisa disampaikan melalui informasi atau hanya
mengandalkan rumus-rumus saja, melainkan harus diupayakan adanya suatu
pembuktian dalam upaya untuk menghindari verbalisme.
Piaget (dalam Ruseffendi, 2003: 233) berpendapat bahwa :
Siswa yang tahap berpikirnya masih ada pada tahap
operasional kongkret (sebaran umur dan sekitar 7-12 tahun atau 13 tahun), yaitu
tahapan umur pada anak-anak SD tidak akan dapat memahami operasi (logis) dalam
konsep matematika tanpa dibantu oleh benda-benda kongkret. Anak-anak pada tahap
berpikir ini dapat dikelompokan ke dalam empat taraf berpikir, yaitu :(1) Taraf
berpikir kongkret; (2) Taraf berpikir semi kongkret; (3) Taraf berpikir semi
abstrak; dan (4) Taraf berpikir abstrak.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Surisman A.M menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga dapat memberikan
kontribusi terhadap kreativitas siswa dengan naiknya rentetan nilai hasil
belajar pada bidang studi matematika di kelas
V SDN ______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ secara bertahap di
setiap putaran (siklus). Rata-rata hasil belajar SD tersebut secara keseguruhan
naik sebesar 1,24. Semula rata-rata 4,3 menjadi 6,34. Hal ini menunjukan bahwa
alat peraga (alat bantu) selain dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas
siswa juga dapat membantu memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami materi
pelajaran.
Hanya saja kenyataan yang terjadi di lapangan sebagian
besar bahwa penggunaan alat peraga pada pembelajaran matematika baik yang
bersifat langsung maupun yang tiruan / buatan belum cukup teroptimalisasikan di
Sekolah-sekolah Dasar pada umumnya. Kenyataan ini dialami pula di kelas V SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap sekolah dijadikan tempat
penelitian, ketika proses pembelajaran guru hanya menerangkan bahan pelajaran
dengan rumus-rumus tanpa bantuan alat peraga yang tepat. Akibatnya hasil belajar
siswa kurang, kurang memahami konsep sedang dipelajari dan aktivitas siswa
tidak terlihat, karena proses pembelajaran berpusat pada guru.
Bertitik tolak dari data tersebut, maka peneliti
memandang perlu diadakannya suatu perbaikan dalam masalah pembelajaran
matematika. Oleh karena itu untuk mengetahui permasalahan di atas secara tepat,
maka sebagai perbaikan pembelajaran matematika pada pokok bahasan luas
dilaksanakan .
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dengan tema "PENGGUNAAN
ALAT PERAGA OTHELLO DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA ".
B. Rumusan
Masalah Tindakan
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum
permasalahan dalam penelitian ini adalah :"Apakah penggunaan Alat Peraga
Othello dapat meningkatkan pemahaman konsep
rancang bangun bagi siswa kelas V SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ ".
Dari masalah tersebut di atas, selanjutnya diuraikan
lebih rinci ke dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
- Bagaimana prestasi belajar siswa kelas V
SDN ______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ sebelum
penggunaan alat peraga ?
- Bagaimana aktivitas siswa kelas V
SDN ______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ selama proses pembelajaran dengan
penggunaan alat peraga ?
- Bagaimana prestasi belajar siswa kelas V
SDN ______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ sesudah
penggunaan alat peraga?
C. Sasaran
Penelitian Tindakan
Tujuan umum penelitian. ini adalah agar siswa memahami
konsep luas pada bangun datar melalui penggunaan Alat Peraga Othello di kelas
V SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____.
Secara khusus penelitian ini bertujuan antara lain
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui
prestasi belajar siswa kelas V SDN
______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ sebelum menggunakan alat peraga.
2. Untuk
mengetahui keaktifan siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan alat
peraga.
3. Untuk mengetahui
bagaimana prestasi belajar siswa setelah menggunakan alat peraga.
D. Manfaat
Penelitian
Manfaat
penelitian tindakan kelas yang peneliti laksanakan adalah dapat diperinci
sebagai berikut :
- Untuk dapat menggunakan alat peraga dalam
pengajaran matematika Secara kreatif.
- Dapat menimbulkan kegairahan belajar sehingga
siswa menjadi kondusif dalam Proses pembelajaran.
- Dapat memperoleh pengalaman langsung berupa
penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika.
E. Definisi
Operasional Variabel
Agar tidak terjadi penafsiran yang salah terhadap
istilah-istilah terdapat dalam judul penelitian ini maka didefinisikan beberapa
istilah yang digunakan. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Penggunaan,
adalah hal (perbuatan dan sebagainya) mempergunakan sesuatu. (W.I.S.
Poerwadarminta, 2000:333).
2. Alat Peraga
Papan Berpaku, yang dimaksud dalam skripsi ini adalah alat bantu pelajaran yang
dibuat dari papan berpaku yang digunakan guru dalam berkomunikasi dengan para
siswa dalam pembelajaran matematika untuk menerangkan konsep luas.
3. Pembelajaran
Pembelajaran
bermakna sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang
melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke
arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan (lbrahim dkk, 2002:94).
4. Matematika
Menurut
James dan James (dalam Suherman dkk, 2001: 18) dalam kamus matematikanya
menyatakan bahwa : “Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk,
susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan lainnya dengan
jumlah yang banyak terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan
geometri”..
5. Konsep
Konsep
adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau
mengklasifikasikan sekumpulan objek (Soedjadi R., 1999:14).
6. Luas, yang
dimaksud dalam PTK ini adalah daerah
yang dimiliki oleh bangun datar.
BAB II
KAJIAN REFERENSIAL
KAJIAN REFERENSIAL
A. Arti
Pembelajaran Dalam Dunia Pendidikan
1. Pengertian
Belajar dan Pembelajaran
Didalam proses pembelajaran baik Sekolah Dasar, Menengah dan ataupun
Perguruan Tinggi, belajar merupakan kegiatan yang pokok, artinya berhasil atau
tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses
pembelajaran dilaksanakan.
Syamsu Yusup (1992:4) mengartikan bahwa : “Belajar
adalah suatu proses perubahan perilaku sebagai hasil usaha individu yang
relatif tetap berdasarkan pengalamannya”. Sedangkan pembelajaran (Suherman E.,
2001:8) merupakan : “Upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program
belajar tumbuh dan berkembang Secara optimal". Dengan demikian proses
belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses
pembelajaran bersifat eksternal sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.
Peristiwa belajar yang disertai dengan proses
pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang hanya
semata-mata dan pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat. Belajar dengan
Proses pembelajaran ada peran guru, bahan belajar. alat peraga dan lingkungan
kondusif yang sengaja diciptakan.
Dalam konsep komunikasi, pembelajaran, adalah proses
komunikasi fungsional antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam
rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa
yang bersangkutan (Suherman E., 2001:9). Guru berperan sebagai komunikator,
siswa sebagai komunikator, dan materi yang dikomunikasikan berisi peran berupa
ilmu pengetahuan.
Menurut Chaplin (dalam Muhibbin Syah, 2002:65)
membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi :
... acquisition of any relatively permanent change in
behavior as a result of practice and experience" (Belajar adalah perolehan
perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan
pengalaman.
Rumusan
keduanya adalah :
... process of acquiring responses as a result of
special practice (Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebapai
akibat adanya latihan khusus.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (1) Adanya perubahan tingkah laku (2)
Perubahan terjadi melalui latihan dan pengalaman: (3) Perubahan akibat belajar
bcrsifat relatif mantap.
2. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan proses yang sangat
kompleks. Berbagai faktor turut serta dalam mempengaruhi peserta didik tatkala
melakukan proses belajar, interaksi antara sejumlah individu dalam lingkungan
sekolah, ditambah dengan terlibatnya lingkungan tempat sekolah berada, akan
turut serta membentuk kondisi yang sangat kompleks dalam proses pembelajaran di
sekolah.
Muhibbin S.yah (2002:182) mengungkapkan :
Ada dua faktor yang turut serta mempengaruhi proses
pembelajaran, yakni :(l) Faktor intern siswa, yaitu hal-hal atau
keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri (2) Faktor ekstern
siswa, yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
a. Faktor Intern
Siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau
kekurang-mampuan psiko-fisik siswa yakni :
1. Bersifat
kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual /
intelegensi siswa.
2. Bersifat
efektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
3. Bersifat
psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera
penglihat dan pendengar.
(Muhibbin Syah. 2002 :1 83).
Sedangkan Syamsu Yusup (1992:11) memgungkapkan
"Ada enam faktor dari dalam (intern) siswa yang dapat mempengaruhi proses
belajar yakni (1) intelegensi / kecerdasan; (2) Bakat ; kemampuan khusus: (3)
Sikap: (4) Minat: (5) Motif; dan (6) Suasana emosinya.
b. Faktor Ekstern
Siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan
kondisi lingkungan sekitar. Faktor
lingkungan ini meliputi :
(1) Lingkungan
keluarga, contohnya perhatian orang tua, status sosial ekonomi.
(2) Lingkungan
masyarakat, contohnya teman sepermainan, keadaan masyarakat.
(3) Lingkungan
sekolah, contohnya, keadaan gedung, perhatian guru, sarana dan prasarana.
(Muhibbin Syah, 2002 : 181).
Sedangkan Moh. Surya (1979:68) mengungkapkan : “Tujuh
faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran, yaitu : (1) Karakteristik
pelajar; (2) Karakteristik pengajar, (3) Interaksi belajar mengajar, (4)
Karakteristik kelompok; (5) Fasilitas fisik; (6) Subjek matter; dan (7)
Lingkungan luar". Menurut Rochman Natawijaya (1979:33) :"Yang
mempengaruhi perbuatan belajar yang berada diluar diri seseorang (faktor
ekstern) adalah sebagai berikut : (a) kontinyuitas, (b) latihan (exercise) dan
(c) penguatan (reinforcement)".
3. Hasil Belajar
Hasil belajar ditandai dengan perubahan seguruh aspek
tingkah laku (Moh. Surya, 1995:25). Perubahan yang diperoleh individu setelah
melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah saja. Jadi
tidak hanya satu aspek atau satu macam tingkah laku saja, melainkan seluruh
aspek tingkah laku secara integral.
Hasil belajar siswa dapat diketahui dengan cara
penilaian. Dalam hal ini penilaian berfungsi sebagai : (1) Untuk mengetahui
tercapai tidaknya tujuan pengajaran; dan (2) Untuk mengetahui keefektivan
proses belajar yang telah dilakukan guru (Nana Sujana, 1989:111). Dengan
demikian fungsi penilaian dalam proses pembelajaran bermanfaat bagi siswa dan
guru. Penilaian hasil belajar dapat dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama,
tahap jangka pendek, yakni penilaian yang dilaksanakan Pada pada akhir proses
pembelajaran. Penilaian ini disebut penilaian formatif. Kedua tahap jangka
panjang, yakni penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran
berlangsung beberapa kali atau setelah menempuh periode tertentu, misalnya
penilaian tengah semester atau penilaian akhir semester. Penilaian ini disebut
penilaian sumatif.
Dalam Proses Belajar Mengajar, kedua penilaian
tersebut yakni penilaian formatif dan penilaian sumatif penting dilaksanakan.
Bahkan prestasi akhir siswa selama satu semester sering digunakan data yang
diperoleh dari hasil penilaian formatif dan hasil penilaian sumatif.
B. Media
pembelajaran Berupa Alat Peraga
1. Pengertian
Alat Peraga
Alat peraga pengajaran (teaching aids / audiovisual aids
) adalah alat-alat yang digunakan oleh guru ketika mengajar untuk memperjelas
materi pelajaran dan mencegah terjadinya verbalisme pada siswa (Gunawan U, 1996:36 ). Pengajaran yang verbal tentu
akan segera membosankan sebaliknya, pengajaran akan lebih baik jika siswa
belajar dengan gembira karena merasa tertarik dan memahami pelajaran yang
diterimanya .
Menurut Natawidjaya R. (1979:178) mendefinisikan bahwa
:”Alat peraga yaitu alat bantu atau pelengkap yang digunakan guru dalam
berkomunikasi dengan para siswa". Selanjutnya Ruseffendi (1992:229)
;mengungkapkan bahwa : "Alat peraga itu alat untuk menerangkan atau
mewujudkan konsep”.
Dengan memperhatikan
pengertian-pengertian alat peraga di atas, dapat disimpulkan bahwa alat peraga
adalah alat bantu pelajaran yang digunakan oleh guru dalam menerangkan materi
pengajaran dan berkomunikasi dengan siswa, sehingga mudah memberi pengertian
kepada siswa tentang konsep materi yang diajarkan.
Alat peraga dalam mengajar mempunyai peranan penting
sebagai alat bantu untuk menciptakan Proses Belajar Mengajar yang efektif.
Setiap proses belajar dan mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara
lain : tujuan, bahan, metode dan alat peraga serta evaluasi. Unsur metode dan
alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dan unsur lainnya yang
berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar
sampai kepada tujuan yang ingin dicapai.
2. Fungsi dan
Manfaat Alat Peraga
Alat peraga merupakan segala sesuatu yang digunakan
untuk mengajarkan materi pelajaran secara kongkret, sehingga peserta didik
dapat menangkap dan memahaminya. Ada beberapa fungsi alat peraga dalam proses
pernbelajaran, di antaranya sebagai berikut :
a. Penggunaan
alat peraga dalam proses pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan tetapi
mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi
pembelajaran yang efektif.
b. Penggunaan
alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseguruhan situsi mengajar,
ini berarti bahwa alat peraga merupakan salah satu unsur yang harus di
kembangkan guru.
c. Alat peraga
dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
d. Penggunaan
alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti
digunakan hanya sekedar melengkapi proses pembelajaran supaya menarik perhatian
siswa.
e. Penggunaan
alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses
pembelajaran dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
f. Penggunaan
alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu pembelajaran.
Dengan perkataan lain menggunakan alat peraga, hasil belajar yang dicapai akan
tahan lama diingat siswa, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi. (Nana
Sudjana, 1989:99)
Sedangkan menurut Gunawan dkk (1996:37) menjelaskan
bahwa : "Manfaat alat peraga, di antaranya : (a) sangat menarik minat
siswa dalam belajar, (b) mendorong siswa untuk belajar bertanya dan berdiskusi,
(c) menghemat waktu belajar".
Dengan demikian menggunakan alat peraga proses
pembelajaran akan lebih kondusif, efektif dan etisien. Siswa akan merasa senang
atau gembira, karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya.
3. Prinsip-Prinsip
Penggunaan Alat Peraga
Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru
memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga
tersebut dapat mencapai hal yang baik. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai
berikut :
a. Menentukan
jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu
alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak
diajarkan.
b. Menetapkan
atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah
penggunaan alat peraga itu sesuai dengan tingkat kematangan / kemampuan anak
didik.
c. Menyajikan
alat peraga dengan tepat, artinya teknik dan metode penggunaan alat peraga
dalam pengajaran haruslah disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu dan
sarana yang ada.
d. Menempatkan
atau memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat dan situasi yang tepat,
artinya kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar alat peraga
digunakan.(Sudjana, 1989:104)
- Macam-Macam Alat Peraga Pembelajaran Matematika
Jenis alat peraga secara umum banyak sekali, dalam hal
ini kajian secara teoritis tentang macam-macam alat peraga akan dibahas secara
khusus yaitu macam-macam alat peraga dalam pembelajaran matematika.
Suherman (2001:205) menjelaskan bahwa yang termasuk
alat peraga dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
a. Alat peraga
kekekalan luas
Luas
daerah bangun datar, luas permukaan bangun ruang, jumlah ukuran sudut, tangram
dan kartu nilai tempat.
b. Alat peraga
kekekalan panjang
Tangga
garis bilangan, pita garis bilangan; neraca bilangan, mistar hitung dan batang
Cuisenaire.
c. Alat peraga
kekekalan isi
Blok
Dienes, isi bangun ruang dan uraian (a+b)3.
d. Alat peraga
kekekalan banyak
Abakus
biji (Romawi, Rusia dan Cina / Jepang).
e. Alat peraga
untuk percobaan dalam teori kemungkinan
Uang
logam, dariu, bidang delapan, bidang empat, bola berwama dan distribusi Galton.
f. Alat peraga
untuk pengukuran dalam matematika
Meteran
busur derajat, roda meteran, jangka sorong (segmat), hipsometer dan klinometer.
g. Macam-macam
geometri
Macam-macam
daerah bangun datar, pengubahan daerah segikerangka benda riang dan benda-benda
ruang.
h. Alat peraga
untuk permainan dalam matematika
Mesin
fungsi, bujur sangkar ajaib, kartu domino, perkalian dengan jari, menyusun
kartu, kartu penebak angka dan perkalian tulang Napier (bermacam-macam basis).
C. Pembelajaran
Matematika Dengan Alat Peraga Othello
1. Hakikat
Matematika
Istilah "mathematics" (Inggris),
"mathematik" (Jerman) berasal dari perkataan Latin
"mathematica", yang mulanya diambil dari perkataan Yunani
"mathematike" yang berarti relating to learning. Perkataan itu
mempunyai akar kata "mathema" yang berarti pengetahuan atau ilmu
(knowledge, science). Perkataan "mathematike" berhubungan erat dengan
sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu "mathanein" yang mengandung
arti belajar (berpikir).
Menurut John dan Rising (dalam Suherman, 2001:19)
dalam bukunya mengatakan bahwa :
Matematika adalah pola berpikir, pola
mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang
menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat,
representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai
ide daripada mengenai bunyi.
Sedangkan Soedjadi (1999:11) menyajikan beberapa
definisi tentang matematika, di antaranya sebagai berikut :
a. Matematika
adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.
b. Matematika
adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
c. Matematika
adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
d. Matematika
adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang
dan bentuk.
e. Matematika
adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
f. Matematika
adalah pengetahuan tentang aturan yang ketat.
Berdasarkan pernyataan dari para ahli matematika di
atas dapat dikatakan bahwa matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan
dengan penelaahan struktur-struktur yang abstrak untuk dapat memahami
struktur-struktur serta hubungan-hubungannya diperlukan penguasaan tentang
konsep-konsep yang terdapat dalam matematika.
Belajar matematika pada hakikatnya merupakan penanaman
penalaran dan pembinaan keterampilan dari konsep-konsep, yaitu ide-ide atau
gagasan-gagasan yang terbentuk dari sifat-sifat yang sama. Konsep-konsep
matematika yang tersusun dalam GBPP SD dapat dikelompokan kedalam tiga jenis
konsep (Karso, 2000:137) yaitu :
1. Konsep dasar,
dalam pembelajaran matematika merupakan materi-materi atau bahan-bahan dari
sekumpulan bahasan dan umumnya merupakan materi baru bagi para siswa yang
mempelajarinya.
2. Konsep yang
berkembang, merupakan sifat atau penerapan dari konsep-konsep dan dalam
mempelajarinya memerlukan pengetahuan tentang konsep dasar.
3. Konsep yang
harus dibina keterampilannya, konsep yang termasuk ke dalam jenis konsep ini
dapat merupakan konsep dasar atau konsep-konsep yang berkembang.
Dilihat dari fungsinya matematika sekolah adalah
sebagai salah satu unsur masukan instrumental yang memiliki objek dasar abstrak
dan berlandaskan kebenaran konsistensi, dalam sistem proses mengajar belajar
untuk mencapai tujuan pendidikan (Depdikbud, 1994:110).
Sejalan dengan fungsi matematika sekolah, maka tujuan umum diberikannya matematika di jenjang
pendidikan dasar (Depdikbud, 1994 : 111) adalah sebagai berikut :
-
Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan
keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan
bertindak atas dasar-dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat,
jujur dan efektif.
-
Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika
dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari
berbagai ilmu pengetahuan.
-
Dengan demikian, tujuan umum pendidikan matematika
pada jenjang pendidikan dasar tersebut memberi tekanan pada penataan nalar dan
pembentukan sikap siswa serta juga memberi tekanan pada keterampilan dalam
penerapan matematika.
Dalam Suplemen Kurikulum SD (1999:11) tujuan khusus
pengajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) adalah untuk :
-
Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung
(menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
-
Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialih gunakan,
melalui kegiatan matematika.
-
Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai
bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
-
Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan
disiplin.
2. Alat Peraga
Papan Berpaku
Alat Peraga Othello adalah suatu alat bantu pelajaran
yang terbuat dari kayu yang diberi titik-titik, jarak dari titik ke titik lain
sama ukurannya, kemudian di atas titik-titik itu diberi paku.
Gambar 2.1

-
Menurut teori belajar mengajar dari Piaget (dalam
Russefendi, 1992:4) : “Pengajaran matematika memerlukan benda-benda sebagai
alat bantu pelajaran dan sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran yang
bersifat abstrak”. Sebab siswa yang tahap berfikirnya masih pada tahap operasi
kongkret tidak akan memahami konsep matematika tanpa benda-benda konkret.
Alat Peraga
othello menurut Depdikbud (1996:19) berfungsi sebagai : a) Alat bantu dalam
pengajaran konsep pengenalan bangur datar; b) Pengenalan keliling; c)
Pengenalan konsep luas; d) Pembelajaran simetrik dan e) Pembelajaran bidang
koordinat".
Sedangkan beberapa keuntungan penggunaan Alat Peraga
Othello sebagai media pembelajaran dalam mata pelajaran matematika di antaranya
sebagai berikut : harganya tidak mahal (murah), mudah untuk digunakan, tidak
berbahaya, bahannya mudah didapat, bentuknya sederhana dan mudah untuk
membuatnya.
3. Pembelajaran
Konsep Luas Dengan Alat Peraga Othello
Untuk mengajarkan pengertian konsep luas kepada siswa
SD, dapat dimulai dengan kegiatan mengukur suatu benda. Misalnya mengukur
permukaan meja, lantai kelas, permukaan buku dan lain-lain. Kegiatan mengukur
suatu sifat dari suatu objek (Suwito dkk, 1997:22) adalah : "Membandingkan
sifat itu dengan objek yang lain". Sifat yang dibandingkan itu misalnya
tentang panjangnya, luasnya, volumenya dan sebagainya. Misalnya kita akan
mengukur luas permukaan meja, satuan yang dipakai misalnya, buku para siswa
yang mempunyai luas permukaan sama (Buku Paket Matematika). Siswa diajak
menghitung luas permukaan meja dengan Buku Paket Matematika. Kemudian
disimpulkan bahwa luas permukaan meja adalah sekian "buku". Dari
kegiatan itu diperkenalkan bahwa kita telah mengukur luas permukaan meja dengan
satuan buku.
Kepada siswa kita harus memperkenalkan bahwa konsep
luas bentuknya tidak harus persegi. Satuan luas dapat juga berupa bentuk yang
lain, misalnya : lingkaran, segitiga siku-siku, segitiga sama sisi, trapesium
maupun jajaran genjang. Lihat gambar di bawah ini.
Gambar
Rancang bangun : Lingkaran, Segitiga Siku-siku
dan Trapesium

Disini kita perlu mengarahkan bahwa
"lingkaran" bukan satuan luas yang baik, karena adanya permukaan yang
tidak dapat ditutupi.
Papan berpaku bersama dengan karet gelang dapat
merupakan alat (media) yang baik untuk memperkenalkan dan pemahaman konsep
satuan luas. Seperti ditunjukan pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.3
Satuan Dengan
Persegi
![]() |
Dengan melihat gambar-gambar di atas perlu disimpulkan
bahwa diantara satu luas tadi, yang paling mudah adalah satuan dalam bentuk
bujur sangkar (persegi).
D. Hubungan
Belajar Matematika Dengan Alat Peraga Othello
Muhibbin Syah (2002:63) mengatakan bahwa :”Belajar
merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental
dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan". Ini berarti
bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung
pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun
di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Belajar pada hakikatnya suatu
proses perubahan pada dan seseorang disebabkan adanya suatu pengalaman (Nana
Sudjana, 1989:106).
Pengalaman manusia dapat dibagi menjadi dua jenis
yaitu pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Dalam pengalaman
langsung anak mengalami dan berbuat sendiri secara langsung, misalnya belajar
menjahit dan menari. Anak melakukan sendiri perbuatan tersebut dalam situasi yang
sebenarnya. Tetapi tidak semua persoalan dapat dipelajari manusia secara
langsung, bahkan pada umumnya atau sebagian besar dipelajari melalui pengalaman
tidak langsung. Pengalaman tidak langsung diperoleh dengan berbagai cara, di
antaranya sebagai berikut :
1. Mengamati
gejala atau situasi dengan menggunakan alat indra, misalnya menonton orang yang
menari, yang sedang menjahit dan membuat kue.
2. Melalui bentuk
gambar, misalnya mempelajari lukisan dan foto.
3. Melalui bentuk grafik, misalnya mempelajari
grafik dan peta.
4. Melalui lambang, seperti rumus dan istilah.
5. Melalui bentuk
verbal, yaitu dengan cara membaca uraian tertulis.
Pengalaman demikian erat hubungannya dengan pemakaian
/ penggunaan alat peraga. Ini menunjukan betapa pentingnya alat peraga dalam
proses belajar.
Edgar Dale (dalam Sudjana, 1989:108) mengemukakan
sepuluh jenis pengalaman manusia yang dilukiskannya dalam bentuk kerucut yang
disebut kerucut pengalaman. (Lihat gambar).
Gambar
Kerucut
Pengalaman
![]() |
Kesepuluh
tingkatan di atas dibagi dalam tiga fase yaitu :
a. Fase berbuat,
yakni tingkat pertama dan kelima.
b. Fase mengamati,
dari tingkat keenam sampai tingkat kesembilan.
c. Fase
abstraksi, yaitu tingkat kesepuluh.
Dari uraian di atas menunjukan bahwa belajar itu dapat
ditempuh melalui berbagai cara yaitu dengan mengalaminya secara langsung
(melakukan dan berbuat), dengan mengamati orang lain, dengan membaca dan
mendengar.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN
METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN
A. Model Penelitian Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode
penelitian tindakan, yang difokuskan pada situasi pembelajaran pendidikan
matematika di SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____. Penelitian
tindakan atau kaji tindak dalam teknologi Bahasa Inggris lazim disebut
"Action Research", yaitu suatu bentuk kajian melalui self reflective
yang bercirikan pada kegiatan partisipatif dan kolaboratif yang dilaksanakan
oleh para peserta pada situasi sosial dalam rangka meningkatkan rasionalitas
dan penilaian mereka terhadap praktek / pelaksanaan suatu kegiatan yang
dilakukan (Ibrahim dkk, 2002:94). Penelitian tindakan dalam pembelajaran
menurut Mc. Niff (dalam Dinn Wahyudin, 2000:1) sebagai :
“Suatu
pendekatan (approach) untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui perubahan,
dengan cara memotivasi guru untuk lebih peduli (concerns) terhadap proses
pembelajaran”.
Penelitian tindakan dapat dilihat sebagai suatu
pendekatan, baik bagi praktisi pendidikan, orang tua siswa atau masyarakat
lainnya yang menerima kompleksitas dan dinamika pengalaman nyata. Kegiatan
penelitian tindakan ini bisa dikatakan sebagai penelitian partisipatif dan
kolaboratif yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan yang tepat.
Tujuan yang diutamakan dalam penelitian ini adalah perubahan, perbaikan dan
peningkatan pada proses pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat
Kemmis & Carrr dan Ebbut (dalam Kasbolah, 1998:13-14) yang mengatakan bahwa
:
Kemmis dan Carr (1986) mengemukakan bahwa penelitian
tindakan merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang
dilakukan oleh pelaku dalam masyarakat sosial (termasuk bidang pendidikan) dan
bertujuan untuk memperbaiki pekerjaannya, memahami pekerjaan ini serta situasi
dimana pekerjaan ini dilakukan.
Ebbut (1985) berpendapat bahwa penelitian tindakan
studi yang sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan
dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi
dari tindakan tersebut.
Penelitian tindakan pertama kali dikembangkan oleh
Kurt Lewin (1946), namun kemudian dilupakan orang karena dianggap "tidak
ilmiah". Beberapa dasawarsa kemudian, penelitian tindakan kembali diungkap
dan digunakan untuk meneliti kasus sosial termasuk masalah pendidikan dan
ternyata menunjukkan hasil yang memuaskan. Penelitian tindakan bercirikan : (1)
Menitik-beratkan pada problem yang spesifik; (2) Tidak menuntut persyaratan
metodologis yang ketat; (3) Cakupan permasalahan sempit, namun mendalam; (4) Bersifat
fleksibel; (5) Tidak menekankan pada generalisasi hasil penelitian (Dinn
Wahyudin, 2000:2). Penelitian tindakan yang berkaitan dengan bidang pendidikan
dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas, maka penelitian tindakan ini dinamakan
penelitian tindakan kelas (classroom action research) (Kasbolah, 1998-12).
Penelitian tindakan kelas (classroom action research) adalah suatu bentuk
penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu
agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara
lebih profesional. (Me. Niff, 1992 dalam Nur Wahyu R., 1997:31). Penelitian
tindakan kelas dalam pelaksanaannya berkembang melalui spiral refleksi
partisipan sendiri (self reflective spiral), yaitu suatu daur ulang, dengan urutan
sebagai berikut : (1) Perencanaan (planning); (2) Pclaksanaan tindakan
(actuating); (3) Pengamatan yang sistentatis (observing) dan (4) Refleksi ke
arah penyempurnaan (Dann Wahyudan, 2000:3 ).
Tujuan dilakukan penelitian tindakan kelas adalah
untuk : (1) Peningkatan dan perbaikan atau pengembangan praktek pembelajaran
yang dilakukan guru di kelas; (2) Perbaikan dan peningkatan layanan profesional
guru; (3) Terwujudnya proses latihan dalam jabutan selama berlangsung kegiatan
penelitian tindakan (Nur Wahyu R., l997:31). Alasan menggunakan penelitian
tindakan kelas karena tidak membuat guru meninggalkan tugasnya. Artinya guru
tetap melakukan kegiatan mengajar seperti biasa. Namun pada saat bersamaan dan
secara terintegrasi guru melaksanakan penelitian. Keuntungan yang dapat kita
ambil dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas terutama bila dilaksanakan di
tempat tugasnya sendiri adalah :(1 ) Tidak mengangu tugas sehari-hari (2)
memudahkan dalam birokrasi terutama dalam hal perijinan dan (3) Mengetahui hal
yang perlu mendapat tindakan.
B. Aturan
Penelitian Tindakan
Proses penelitian tindakan tidak dapat dipisahkan
dengan rancangan penelitian tindakan, karena proses penelitian tindakan adalah
realisasi dari rancangan penelitian itu sendiri. Secara umum prosedur
penelitian tindakan kelas bercirikan siklus (cycle) dari perencanaan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan sistematis dan refleksi / pemikiran untuk
penyempurnaan. Dinn Wahyudin (2000:4) mengemukakan bahwa penelitian tindakan
kelas memiliki karakteristik yang khusus yaitu bercirikan :
- An inquiry on practice from within, artinya
kegiatan yang bercirikan penelitian praktis yang berupaya memperbaiki
kegiatan pembelajaran.
- Collaborative efforts between teachers and other.
artinya kegiatan yang berkolaborasi antara guru dengan pihak lain terutama
kepala sekolah dan pengawas.
- Reflective practice artinya proses refleksi atau
perenungan ke arah perbaikan dan penyempurnaan proses daur yang terus
menerus (cyclus) sehingga diperolehnya hasil yang optimal.
Secara umum tahapan dalam penelitian dibagi dua, yaitu
(1) Tahap perencanaan tindakan; dan (2) Tahap pelaksanaan tindakan. Pada dua
tahap tersebut ada sejumah kegiatan yang dilakukan, mulai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan, observasi dan revisi untuk menuju ke arah penyempurnaan.
Prosedur penelitian yang dipergunakan berbentuk
siklus, penelitian tindakan ini direncanakan terdiri dari tiga siklus. Tiap
siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan ke arah peningkatan dan perbaikan
proses pembelajaran. Sebelum tahap-tahap dalam suatu siklus dilaksanakan
terlebih dahulu dilakukan studi kelayakan sebagai penelitian pendahuluan dengan
tujuan untuk mengidentifikasi masalah dan ide yang tepat dalam pengembangan proses
pembelajaran di kelas.
Model siklus yang digunakan berbentuk spiral
sebagaimana dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart (Kasbolah, 1998:14) yaitu
merupakan :”Momen-momen dalam bentuk spiral yang meliputi perencanaan (plan),
tindakan (act), pengamatan (observe) dan refleksi (reflect)”. Kemudian pada
siklus kedua dan seterusnya jenis kegiatan yang dilakukan peneliti pada
dasarnya sama, tetapi ada modifikasi pada tahap perencanaan.
Secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan untuk
setiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Perencanaan
Kegiatan perencanaan berdasarkan temuan awal melalui
orientasi. Kemudian dilakukan penyusunan rencana tindakan yang akan
dikembangkan dalam proses pembelajaran pendidikan matematika dalam pokok
bahasan luas, dengan penggunaan Alat Peraga Othellosebagai pemahaman konsep
luas. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah : (1) Membuat
skenario rencana pembelajaran matematika; (2) Membuat lembar observasi, untuk
melihat bagaimana kondisi pembelajaran di kelas ketika menggunakan Alat
Peraga Othello ; (3) Menyiapkan alat
peraga untuk memberikan pemahaman konsep luas kepada siswa, (4) mendesain alat
evaluasi belajar. untuk melihat kemampuan siswa dalam pemahaman konsep rancang bangun.
2. Pelaksanaan
Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Jenis
tindakan yang dilaksanakan guru merupakan hasil kesepakatan yang dilakukan bersama antara guru dan peneliti secara
kolaboratif: Pelaksanaan tindakan dilakukan untuk memperbaiki dan
menyempurnakan proses pembelajaran dengan tujuan untuk peningkatan kualitas
pembelajaran yang dilaksanakan guru dan peningkatan hasil belajar siswa.
3. Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses pengamatan
(observasi) terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi
yang telah disiapkan sebelumnya. Kegiatan observasi dilakukan dengan
langkah-langkah yang telah disepakati, peneliti mulai mendokumentasikan proses.
Keadaan dan kejadian-kejadian lain yang timbul dan berkembang dari tindakan
yang dilaksanakan. Hasil dari observasi ini dijadikan sebagai dasar untuk
melakukan refleksi dan revisi, dalam merancang dan merumuskan rencana tindakan
selanjutnya.
4. Refleksi
Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan
serta dianalisa dalam tahap ini. Temuan pada waktu pelaksanaan kegiatan
pembelajaran (tindakan) ditindak-lanjuti dengan kegiatan refleksi dalam bentuk
diskusi bersama antara guru dan peneliti.
Dilihat dari proses dan waktu pelaksanaannya, refleksi
dalam penelitian dilakukan pada orientasi, proses dan akhir program tindakan,
yaitu : (1) Refleksi awal yang dilakukan pada saat orientasi terhadap
masalah-masalah dan faktor-faktor pendukung dan penghambat rencana pembelajaran
matematika dengan penggunaan Alat Peraga
Othello ; (2) Refleksi proses yang dilakukan pada saat pelaksanaan
program tindakan pembelajaran, dimaksudkan untuk mengkaji proses dan hasil atau
dampak yang berkembang dalam pelaksanaan tindakan, selanjutnya merevisi rencana
program yang telah disusun sebagai dasar dalam merancang rencana tindakan
selanjutnya: (3) Refleksi hasil yang dilakukan pada akhir pelaksanaan tindakan
sesuai dengan perencanaan tindakan yang telah dirumuskan bersama.
Kegiatan refleksi dalam bentuk diskusi antara peneliti
dan guru yang pelaksanaannya didasarkan kepada hasil pengamatan yang
direfleksi, dianalisis serta diinterpretasikan yang kemudian disimpulkan
pemaknaannya. Kesimpulan hasil diskusi dijadikan dasar bagi penyusunan rencana
tindakan dalam pelaksanaan siklus berikutnya.
C. Setting
Penelitian
Penelitian tindakan ini dilakukan di SDN _____ Kecamatan ____ Kabupaten ____ . Objek penelitian tindakan
adalah sebagian saja siswa kelas V pada tahun ajaran ___/___ hanya 10 orang siswa. Dasar pertimbangan
dijadikannya SDN tersebut sebagai lokasi dan objek penelitian adalah sebagai
berikut :
- Letak geografis SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ terletak di daerah yang strategis di
salah satu jalan utama kota
Kecamatan _______.
- Kondisi sosial ekonomi siswa, rata-rata siswa
yang masuk ke sekolah ini berlatar belakang sosial ekonomi kelas menengah,
sehingga akan mudah menerima pembaharuan.
- Kualifikasi pendidikan guru, guru-guru yang
bertugas di sekolah ini semuanya sudah berkualifikasi pendidikan D II
PGSD.
- Prestasi belajar siswa, perolehan rata-rata NEM
sebelum sistem UAS selalu baik. Hal itu memungkinkan lulusan dari SDN
tersebut diterima di SLTP-SLTP yang dipilih lulusan.
D. Instrumen
Penelitian
Untuk mempermudah dalam mengukur perkembangan
kemampuan para siswa dalam pembelajaran matematika, maka perlu dirancang dan
dirumuskan suatu instrumen yang dapat mengumpulkan data secara tepat dan
akurat. Dalam hal ini peneliti menggunakan instrumen berupa tes hasil belajar
dan non tes yang berbentuk lembar observasi, wawancara dan dokumentasi.
1. Instrumen tes
hasil belajar, digunakan untuk menjaring data mengenai peningkatan hasil
belajar siswa khususnya mengenai penguasaan terhadap materi atau pokok bahasan
yang dipelajari siswa dengan menggunakan alat peraga pada pembelajaran
matematika. Tes hasil belajar direfleksi secara bersama-sama (didiskusikan)
dengan guru mitra, guru teman sejawat juga kepala sekolah.
2. Lembar
observasi
Instrumen
ini dibuat dan disusun oleh peneliti dengan meminta peran kepada pembimbing
lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai unjuk kerja guru
dan mengamati proses pembelajaran siswa dalam pembelajaran matematika dengan
menggunakan Alat Peraga Othello . Data
yang ingin dijaring melalui lembar observasi adalah data yang berupa perkataan
dan aktivitas, yaitu komunikasi interaktif antara guru dengan siswa, siswa
dengan siswa dan siswa dengan guru kegiatan yang menyangkut proses pembelajaran
matematika.
3. Wawancara
Instrumen
ini dirancang sebagai pedoman yang digunakan untuk mengetahui lebih mendalam
bagaimana persepsi siswa tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Serta wawancara terhadap
guru terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga, pandangan
guru teman sejawat, faktor-faktor pendukung yang tersedia, kendala-kendala yang
dihadapi baik tentang pelaksanaan.
4. Dokumentasi
Merupakan
sumber informasi pendukung yang dapat dianalisis ulang tanpa terjadi perubahan
di dalamnya dan akan memberikan gambaran pernyataan formal (Lincoln dan Guba,
dalam Mujono, 2003:64).
Dalam
penelitian ini, dokumentasi yang dijadikan sumber informasi adalah suplemen
Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Matematika dan kurikulum
Tahun 1994, Persiapan Mengajar Harian (PMH), daftar nilai, lembar jawaban
evaluasi dan lembar tugas dan buku pekerjaan rumah setiap siswa.
E. Metode Analisa
Data
Dalam analisis data, teknik yang digunakan dalam
penelitian tindakan kelas bisa secara kualitatif maupun kuantitatif. Data yang
diperoleh dikategorikan dan diklasifikasikan berdasarkan analisis kemudian
ditafsirkan dan disajikan dalam keseluruhan permasalahan dan kegiatan
penelitian.
Selanjutnya untuk menganalisis data, hasil tindakan yang
dilakukan peneliti bersama guru disajikan secara bertahap sesuai dengan siklus
yang telah dilakukan serta jenis dan bentuk tindakan / action yang telah
dilakukan serta efek yang ditimbulkannya.
Prosedur pengolahan dan analisis data dilaksanakan
mengacu pada pola pengolahan data dari Hopkins (dalam Nur Wahyu R., 1997.34-35)
yang dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
- Pengumpulan Data
Berbagai
data mentah yang dikumpulkan melalui kegiatan observasi dan wawancara
dirangkum, kemudian data-data tersebut diberi identitas tertentu berdasarkan
jenis dan sumbernya, meliputi : analisis terhadap pelaksanaan proses
pembelajaran yang berlangsung, aktivitas (keterlibatan) siswa dalam
pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran.
- Validasi Data
Data
yang diperoleh dan telah dikategorisasikan sesuai dengan karakteristik,
selanjutnya dimodifikasikan sesuai dengan model yang dikembangkan, kemudian
divalidasi melalui tri-angulasi, member-check audit trail dan expert opinion
(Hopkins, dalam Nur Wahyu R., 1997:35) kegiatan validasi data yang dilakukan
sebagai berikut :
(a) Tri-angulasi,
dilakukan untuk memeriksa kebenaran data dengan menggunakan sumber lain,
misalnya membandingkan kebenaran data dengan data yang diperoleh dari sumber
lain (guru teman sejawat, siswa). Kegiatan tri-angulasi dalam penelitian ini
dilakukan melalui kegiatan reflektif-kolaboratif antara guru, peneliti dan
mitra peneliti. Selain itu, juga dilakukan dengan melakukan wawancara dengan
siswa dan dari ahli dilakukan pada saat bimbingan mengenai temuan-temuan
penelitian dan penyusunan laporan.
(b) Audit trail,
yaitu pengecekan keabsahan temuan penelitian yang telah diperiksa dengan
mengkonfirmasikan kepada sumber data pertama yakni guru dan siswa. Kegiatan ini
dilakukan guna memperoleh kritik, tanggapan dan masukan, sehingga bisa
mempertajam analisis dan memperoleh validitas yang tinggi.
(c) Member check,
dilakukan untuk meninjau kembali kebenaran dan kesahihan data penelitian dengan
mengkonfirmasikan pada sumber data (Miler & Suherman, dalam Nur Wahyu R.,
1997:35). Dalam kegiatan member check, peneliti mengkonfirmasikan data temuan
yang diperoleh kepada guru melalui kegiatan reflektif-kolaboratif pada setiap
akhir kegiatan pembelajaran. Pada kesempatan ini peneliti mengemukakan hasil
temuan sanggahan atau informasi tambahan dari guru, sehingga terjaring data
yang benar.
(d) Expert
opinion, dilakukan dengan cara mengkonsultasikan hasil temuan penelitian kepada
para ahli (Nasution dalam Nur Wahyu R., 1997:75 ). Dalam kegiatan ini, peneliti
mengkonsultasikan hasil temuan penelitian kepada pembimbing untuk memperoleh
arahan dan masukan sehingga validasi temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan.
- Interpretasi Data
Temuan-temuan
data penelitian diinterpretasikan dengan merujuk kepada acuan teoritik mengenai
situasi proses pembelajaran yang baik dalam penggunaan Alat Peraga Othello
pengajaran matematika dalam pemahaman
rancang bangun, sehingga dari interpretasi diharapkan diperoleh makna
yang berarti sebagai bahan untuk kegiatan tindakan-tindakan, atau untuk
kepentingan peningkatan kinerja guru dalam proses pembelajaran selanjutnya.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN
HASIL TINDAKAN
Pada bab ini akan dibahas tiga permasalahan pokok
yakni bagian A membahas deskripsi data studi pendahuluan yang meliputi :
Kondisi SD sasaran ; (2) Karakteristik siswa kelas V, (3) Karakteristik guru;
(4) Sumber belajar dan (5) Fasilitas sekolah. Bagian B membahas pelaksanaan
tindakan penelitian berupa penggunaan alat peraga pada mata pelajaran
matematika dari tindakan pertama sampai tindakan ketiga. Sedangkan bagian C
pembahasan penelitian meliputi : (1) Model pembelajaran dengan alat peraga; dan
(2) Hasil belajar siswa dengan alat peraga.
A. Deskripsi Data
Studi Pendahuluan
1. Kondisi awal
Sekolah tempat penelitian adalah Sekolah Dasar
Negeri _______ , sekolah tersebut
didirikan pada tahun 1978. Pada waktu
itu tempat belajarnya (bangunannya) masih bersatu dengan SDN ________ . Pada tahun 1980 atas inisiatif kepala sekolah dan BP3
pada waktu itu merencanakan untuk membangun gedung sekolah tersendiri.
Dengan swadaya masyarakat dan dana Pemerintah gedung
sekolah tersebut selesai dibangun. Pembangunan pertama hanya satu lokal yang
terdiri dari tiga kelas, sehingga kegiatan belajar dilaksanakan secara paralel,
ada yang masuk pagi dan siang.
Pada tahun 1990 kepala sekolah mengajukan tambahan
lokal kepada Pemerintah. Pada tahun tersebut dibangun dua lokal yang terdiri
dari satu lokal uniuk perumahan guru dan satu lokal untuk ruang belajar. Pada
tahun 1992 dibangun lagi satu lokal (satu ruang) untuk tempat belajar. Sehingga
sampai sekarang bangunan sekolah SDN _______
terdiri dari empat lokal yaitu tiga
lokal bangunan untuk ruang belajar dan kantor dan satu lokal untuk perumahan
guru dan kepala sekolah.
Status kepemilikan tanah SDN _________ merupakan milik BP3 (masyarakat) dan ini
merupakan satu-satunya sekolah di Kecamatan
________ yang status tanahnya
bukan milik Pemerintah.
SDN _________ .
Jumlah tenaga pengajarnya yang ada berjumlah tujuh orang guru umum, satu orang
guru Pendidikan Agama Islam (PAI), satu orang kepala sekolah dan satu
orang penjaga sekolah.
2. Karakteristik
Siswa
Siswa-siswa
yang menjadi sampel penelitian adalah siswa kelas V SDN ________ berdasarkan catatan,dokumen semuanya 10
siswa
Tabel
Peringkat
Siswa di Kelas V Semester I
No.
|
Kelompok
|
Jumlah
|
1
|
Pandai
|
4
|
2
|
Sedang
|
3
|
3
|
Kurang
|
3
|
Jumlah
|
10
|
3. Karakteristik
Guru
Dalam proses pembelajaran guru merupakan salah faktor
pendukung dalam keberhasilan pengelolaan kelas. Dalam pengelolaan kelas, guru
memiliki peran yang paling utama dibandingkan dengan faktor-faktor pendukung
yang lainnya. Hal ini berkenaan dengan kedudukan guru sebagai pengendali dan
pelaksana berlangsungnya pengelolaan kelas. Dalam hubungannya dengan kedudukan
guru, peranan guru adalah sebagai : (1) Pengajar (instruksional); (2) Pendidik
(educational); dan (3) Sebagai pemimpin (managerial) di dalam kelas yang tak
dapat dipisahkan lagi (Gunawan dkk, 1996:52).
Guru yang mengajar di SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ yaitu merupakan guru kelas. Gambaran umum mengenai
karakteristik guru SDN ______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ yang akan digali adalah hal-hal yang berkaitan
langsung dengan faktor yang mempengaruhi terhadap kualitas seorang guru, antara
lain latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar dan keikut-sertaan dalam
penataran dan pelatihan.
Seorang
guru biasanya setiap mengajar matematika
selalu menjelaskan materi dengan langsung menggunakan rumus-rumus, tanpa
dibantu dengan alat bantu pelajaran (alat peraga). Pada waktu proses
pembelajaran berlangsung siswa biasanya bisa atau dapat mengikuti pelajaran
dengan baik. Hal ini dapat diketahui ketika diadakan tanya jawab maupun
contoh-contoh yang dikerjakan di papan tulis. Namun ketika menghadapi materi
yang sama dalam tahap berikutnya, siswa selalu rnengalami kesulitan, dengan
alasan rumus-rumusnya sudah lupa.
Guru pada umumnya dalam mengajar matematika jarang
sekali, rnerencanakan pembelajaran secara tertulis dengan lengkap serta tidak
mempersiapkan alat bantu pelajarannya, hal ini karena banyaknya beban mengajar
sebagai guru kelas yang banyak. Sebenarnya beliau memandang bahwa perencanaan
tertulis yang lengkap dan menyediakan alat bantu pelajaran (alat peraga) sangat
bermantaat dalam rangka menyampaikan pengajaran yang materinya dianggap masih
baru dan diperlukan pengembangan terhadap langkah-langkah kegiatan pembelajaran
yang mungkin belum pernah dilakukan oleh beliau sendiri. Perencanaan
pembelajaran secara tertulis dan lengkap baru dibuat apabila ada tim supervisi
atau dalam pengajuan kenaikan tingkat.
4. Sumber Belajar
Selain guru, faktor yang mempengaruhi dalam proses
pembelajaran adalah sumber belajar. Sumber belajar yang paling dominan dipakai
di Sekolah Dasar sasaran adalah buku cetak. Pada tahun pelajaran ____/____, untuk mata pelajaran matematika di
Sekolah Dasar sasaran menggunakan Buku Paket Matematika Jilid Lima Mari Berhitung yang dikarang oleh Djoko
Moeseno dan Sujono, yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
tahun 1997 dan dicetak oleh PT. Dipratama Selaras. Selain buku paket siswa juga
menggunakan sumber belajar yang lain yaitu buku matematika dari penerbit PT. Erlangga,
yaitu Terampil Berhitung kelas lima yang
disusun oleh Tim Bina Karya Guru. buku ini dibeli oleh siswa sebagai buku
pelengkap.
Buku paket matematika dibagikan kepada para peserta
didik dan semua peserta didik wajib menggunakannya. Buku pegangan peserta didik
ini sudah disusun, berdasarkan Kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1994, sehingga
susunan tujuan pelajaran sudah tertata secara hierarkis serta sudah dirumuskan
berdasarkan susunan yang terdapat dalam tujuan umum pembelajaran dan GBPP.
Sumber belajar matematika yang berkenaan dengan
pengukuran dalam kehidupan sehari-hari peserta didik selama ini belum dapat
dimanfaatkan dengan baik. Karena untuk dapat menggunakan sumber belajar
tersebut faktor kondisi dan lingkungan belum memungkinkan dan sarananya belum
tersedia di sekolah. Padahal ada beberapa bagian dari materi matematika dapat
diaplikasikan atau dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari para peserta didik.
Dengan adanya struktur sumber belajar yang diperlukan untuk mata pelajaran
matematika bukan hanya buku cetak / buku paket saja.
Proses
kegiatan pembelajaran di SD sasaran dilaksanakan dari mulai jam 7.00 sampai
dengan jam 13.00 WIB. Untuk ruangan perpustakaan di SD sasaran belum ada, masih
bersatu dengan ruangan guru dan kepala sekolah yang ukuran luasnya tidak memadai. Sedangkan jumlah dan jenis buku yang
tersedia masih terbatas serta dalam penggunaannya belum maksimal dipergunakan
oleh siswa. Apalagi penggunaannya yang berkaitan dengan proses pembelajaran
peserta didik belum optimal. Umumnya siswa hanya menggunakan dan mempelajari
materi pelajaran dan buku paket yang diwajibkan di sekolah.
5. Kondisi Awal
Proses Pembelajaran Matematika
Pada tanggal __________, hari ______ peneliti
melaksanakan observasi yang pertama pada pukul 7.00-8.30 WIB yang membahas
pokok bahasan luas pada bidang datar persegi. Hal yang dilakukan guru ketika
memasuki kelas adalah menjawab salam yang diucapkan secara serempak oleh para
siswa yang dipimpin oleh KM (Ketua
Kelas).
Kegiatan membuka pelajaran guru memulainya dengan
mengabsen para siswa terlebih dahulu, yang dilanjutkan dengan apersepsi.
Selanjutnya guru menyuruh para siswa membuka Buku Paket Matematika Empat Mari
Berhitung pada halaman 198, yang dilanjutkan dengan menuliskan pokok bahasan di
papan tulis dan menggambarkan bangun persegi (bujur sangkar).
Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan yakni :
"Anak-anak, bangun apakah ini ?". Dijawab oleh para siswa secara
serentak. Bangun bujur sangkar, Bu !". Atas jawaban tersebut guru pun langsung
menanggapinya dengan memberikan penguatan secara verbal dengan mengatakan,
"Betul, anak-anak". Pertanyaan yang kedua adalah ".Mengapa
bangun ini dinamakan bujur sangkar ?". Dijawab oleh beberapa siswa,
`'Karena ukuran sisinya sama panjang". Atas jawaban tersebut untuk kedua
kalinya, guru pun langsung memberikan penguatan secara verbal dengan
mengucapkan, "Bagus, anak-anak".
Kegiatan inti pelajaran, guru menjelaskan materi yang
akan diajarkan yaitu tentang luas. Guru menjelaskan cara menyelesaikan soalsoal
yang berhubungan dengan materi pokok bahasan
rancang bangun persegi dengan langkah penyelesaiannya. Setelah
pembahasan berakhir, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan
dijawab oleh siswa dengan, "Sudah paham, Bu!".
Atas dasar itulah guru memberikan soal evaluasi untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Soal
yang telah disiapkan guru berupa LKS yang dibagikan kepada siswa secara
perorangan. Hasil dari evaluasi dikumpulkan dan langsung diperiksa.
Adapun hasil belajar siswa SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ adalah
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel
Daftar Nilai Kondisi Awal
No. Absen
|
Nilai
|
No. Absen
|
Nilai
|
Keterangan
|
1
|
4
|
21
|
5
|
0 = 0%
1 = 0%
2 = 0%
3 = 0%
4 = 20,51%
5 = 33,33%
6 = 15,39%
7 = 12,82%
8 = 17,95%
9 = 0%
10 = 0%
|
2
|
4
|
22
|
4
|
|
3
|
8
|
23
|
6
|
|
4
|
5
|
24
|
5
|
|
5
|
5
|
25
|
8
|
|
6
|
6
|
26
|
5
|
|
7
|
4
|
27
|
6
|
|
8
|
7
|
28
|
8
|
|
9
|
5
|
29
|
5
|
|
10
|
8
|
30
|
7
|
|
RATA-RATA = 5,74
|
|
Kegiatan akhir dan proses pembelajaran, guru
menegaskan pada siswa untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang telah
dipersiapkan guru. Kemudian guru menyuruh siswa untuk menyiapkan buku
pelajaran Matematika
6. Analisis,
Refleksi dan Rencana Tindakan
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakanakan
pada kondisi awal diperoleh hasil belajar siswa SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ yang ditunjukan dengan perolehan nilai, hasil
rata-rata kurang; nilai rata-rata hanya
mencapai 5,74%. Persentase nilai terbanyak lima yaitu 33,33% dari jumlah murid.
Sedangkan hasil observasi mengenai pelaksanaan
pembelajaran matematika di SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____, bila
dilihat dari perincian waktunya dapat diklasifikasikan pada tabel berikut.
Tabel :
Rincian
Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Matematika
di kelas
V SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____
No.
|
Jenis
Kegiatan
|
Waktu
|
Persentase
|
1
|
Kegiatan
awal
|
4 menit
|
5
|
2
|
Kegiatan
inti
a. Menjelaskan
b. Pembahasan
cara penyelesaian soal
c. Tanya jawab
d. Evaluasi
|
10 menit
20 menit
10 menit
32 menit
|
12,5
25
12,5
40
|
3
|
Kegiatan
akhir
|
4 menit
|
5
|
|
|
80 menit
|
100%
|
Data pada tabel di atas, menunjukan bahwa dalam
kegiatan inti selain pelaksanaan evaluasi (40%) yang merupakan kegiatan siswa sepenuhnya, lebih dari setengahnya (47,5%) proses pembelajaran berpusat
kepada aktivitas guru. Sedangkan sisanya yakni kurang dari setengahnya (12.5%)
berupa gabungan antara kegiatan guru dan siswa.
Berdasarkan gambaran tersebut di atas, menunjukan
bahwa kegiatan pembelajaran matematika di SDN
______ Kecamatan ______ Kabupaten _____ Tahun Pelajaran ___/____ tidak sesuai dengan
peranan penting pembelajaran matematika di SD karena proses pembelajaran lebih
banyak didominasi oleh guru sebagai penyampai informasi dan siswa adalah
sebagai pendengar setia yang harus menerima apa-apa yang disampaikan guru. Jadi
jelas komunikasi hanya berjalan satu arah, tanpa memberikan kesempatan pada
anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Atas dasar itulah perlu dilakukan
perbaikan-perbaikan.
Tindakan awal yang dilakukan peneliti untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran matematika di SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ adalah dengan cara mengadakan refleksi
terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan guru sasaran. Adapun
tujuannya adalah selain mengadakan evaluasi terhadap kegiatan yang telah
dilakukan guru tersebut, juga untuk menentukan suatu pendekatan dan alat bantu
pelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dari hasil tindakan awal tersebut dapat disimpulkan
bahwa ketidakberhasilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal, selain disebabkan
oleh kurangnya kemampuan pemahaman siswa dalam memahami materi pelajaran, juga
disebabkan oleh karena didalam menyampaikan materi pelajaran, guru tidak
menggunakan alat bantu pelajaran (alat peraga), tetapi dalam proses
pembelajaran langsung menggunakan rumus-rumus, sehingga siswa kurang memahami
betul materi pelajaran yang disampaikan guru. Atas dasar itulah peneliti
merencanakan melaksanakan penggunaan alat peraga sebagai solusi permasalahan
tersebut di atas.
B. Pelaksanaan
Penelitian
Tindakan
pertama :
1. Perencanaan
tindakan
Pada tahap ini peneliti merumuskan Persiapan Mengajar
Harian (PMH) untuk bidang studi matematika untuk ditindaklanjuti dengan
pembelajaran yang menerapkan pada penggunaan alat peraga. Pada siklus kesatu
pokok-pokok bahasan yang diambil adalah
mengenai luas bangun datar persegi
panjang.
2. Pelaksanaan
dan observasi
Pada
pembelajaranperrtama, materi yang diajarkan mengenai pokok bahasan luas pada
bangun persegi panjang dengan waktu dua jam. Pada awal pembelajaran siswa
diberikan dahulu pre test untuk melihat kemampuan awal. selanjutnya guru
mengadakan apersepsi tentang bangun-bangun datar.
Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tentang
pokok .bahasan luas pada bangun persegi panjang dengan bantuan Alat Peraga
Papan Berpaku. Guru menyuruh siswa untuk membuat beberapa bangun persegi
panjang pada papan berpaku. Selanjutnya guru bertanya pada siswa, "Berapa
luasnya bangun persegi panjang ini ?"Guru menunjuk gambar pada papan berpaku. Karena siswa diam
tidak ada yang menjawab, maka guru menjelaskan cara mencari luas bangun persegi
panjang dengan bantuan Alat Peraga Papan Berpaku, yaitu caranya dengan
menghitung banyaknya kotak-kotak persegi yang ada dalam persegi panjang.
Selanjutnya memberikan contoh-contoh soal yang harus dikerjakan siswa.
Setelah dianggap paham dan mengerti guru memberikan
evaluasi berupa soal-soal untuk mengukur keberhasilan mengajar. Dari tindakan
pertama didapat hasil pre test dan post test serta hasil observasi tentang
kinerja guru. Adapun hasil pre test dan post test dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel
Nilai Pre Test dan Pos Test Tindakan Pertama
Nilai Pre Test dan Pos Test Tindakan Pertama
No. Siswa
|
Nilai
|
No. Siswa
|
Nilai
|
Ket.
|
||
Pre Test
|
Post Test
|
Pre Test
|
Post Test
|
|||
1
|
4
|
6
|
21
|
6
|
6
|
|
2
|
4
|
6
|
22
|
8
|
6
|
|
3
|
8
|
10
|
23
|
4
|
8
|
|
4
|
8
|
10
|
24
|
2
|
8
|
|
5
|
4
|
6
|
25
|
4
|
8
|
|
6
|
8
|
8
|
26
|
6
|
6
|
|
7
|
6
|
8
|
27
|
8
|
6
|
|
8
|
6
|
6
|
28
|
4
|
6
|
|
9
|
8
|
8
|
29
|
4
|
8
|
|
10
|
8
|
8
|
30
|
2
|
8
|
|
RATA-RATA
|
5,03
|
6,92
|
|
Dari hasil observasi tentang kemampuan kinerja guru
dalam tindakan pembelajaran pertama mendapat rata-rata skor 3,3 dengan skor
maksimal lima. Dengan skor observasi mi menunjukan kinerja guru yang cukup
baik. Untuk lebih jelasnya hasil observasi tindakan pertama lihat
Tabel
Format
Observasi Kinerja Guru Dalam
Pembelajaran
Tindakan Pertama
No.
|
Aspek Yang
Diamati
|
Skor
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
1
|
Membuka
pelajaran
|
|
|
3
|
|
|
2
|
Menyajikan
materi
|
|
|
|
4
|
|
3
|
Menyiapkan
alat peraga
|
|
|
|
4
|
|
4
|
Menggunakan
alat peraga
|
|
|
|
4
|
|
5
|
Melibatkan
siswa aktif dalam pembelajaran
|
|
|
3
|
|
|
6
|
Melakukan
tanya jawab
|
|
|
3
|
|
|
7
|
Memberikan
penguatan
|
|
|
3
|
|
|
8
|
Membuat
kesimpulan
|
|
|
|
4
|
|
9
|
Memberikan
evaluasi
|
|
|
|
4
|
|
10
|
Memeriksa
hasil kerja siswa
|
|
|
3
|
|
|
11
|
Membimbing
siswa yang kurang
|
|
2
|
|
|
|
|
JUMLAH = 37
|
|||||
|
RATA-RATA =
3,36
|
3. Refleksi
tampilan pertarna
Pembelajaran matematika dengan menggunakan Media alat
peraga dapat memberikan masukan pengalaman kepada para siswa mengenai apa yang
dipelajari. Dari analisis data didapat rata-rata nilai dan hasil observasi yang
dapat ditafsirkan sebagai berikut : hasil nilai rata-rata pre test 5,03 dan
nilai rata-rata post test adalah 6,92. Hasil rata-rata ini belum mencapai 7,5
sesuai dengan belajar tuntas.
Pada tampilan pertama, materi yang disajikan sudah
sesuai dengan yang direncanakan dan tidak terlalu sulit bagi siswa. Hanya
pemberian latihan secara individual dibawah bimbingan guru, tanpa menugaskan
siswa untuk menyelesaikan soal di papan tulis menjadi kendala bagi guru. Dengan
cara tersebut, banyak waktu yang tersita, karena guru cenderung menunggu semua
siswa selesai mengerjakan soal baru membahas latihan. Padahal tidak semua siswa
dapat menyelesaikan soal tepat waktu secara bersama-sama, sementara suasana
kelas pun sudah agak ribut sehingga hal ini mempengaruhi suasana belajar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kinerja guru
berdasarkan hasil observasi yaitu dalam kegiatan membuka pelajaran, melibatkan
siswa aktif dalam pembelajaran, menggunakan alat peraga, melakukan tanya jawab,
memeriksa hasil kerja dan yang paling utama adalah dalam membimbing siswa yang
kurang dan penguasaan kelas yang kurang sehingga pada proses pembelajaran siswa
kelihatan ribut dan gaduh.
4. Saran tampilan
berikutnya
Penyediaan Alat Peraga Othellomemegang peranan
penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan materi pokok bahasan luas. Oleh karena itu alat peraga pada tampilan selanjutnya harus lebih banyak Sehingga siswa pada Proses Belajar Mengajar akan lebih banyak melibatkan diri dan aktif dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran sebaiknya interaksi yang terjalin tidak kaku, sehingga tidak timbul suasana kelas yang gaduh. Guru harus dapat lebih banyak memberikan umpan pertanyaan-pertanyaan, agar peserta didik (siswa) dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang belum dimengerti.
penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan materi pokok bahasan luas. Oleh karena itu alat peraga pada tampilan selanjutnya harus lebih banyak Sehingga siswa pada Proses Belajar Mengajar akan lebih banyak melibatkan diri dan aktif dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran sebaiknya interaksi yang terjalin tidak kaku, sehingga tidak timbul suasana kelas yang gaduh. Guru harus dapat lebih banyak memberikan umpan pertanyaan-pertanyaan, agar peserta didik (siswa) dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang belum dimengerti.
Tindakan kedua :
1. Perencanaan
tindakan
Pada tindakan kedua perencanaan dibuat dan dirumuskan
dalam bentuk Persiapan Mengajar Harian, dengan sub pokok bahasan mengenal rumus
luas baku persegi dan persegi panjang. Rumusan persiapan mengajar harian
terlampir.
2. Pelaksanaan
dan observasi
Proses pelaksanaan tindakan kedua adalah
mengaktualisasikan skenario pembelajaran yang berupa Persiapan Mengajar Harian
(PMH) yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Kegiatan yang dilakukan guru setelah membalas salam
dari siswa adalah memberikan pre test sebagai awal mengenai materi pembelajaran
yang akan dipelajari seperti pada tampilan pertama, dalam tampilan kedua
diperlukan waktu delapan menit untuk mengulang materi yang telah dipelajari dan
selanjutnya mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran.
Memasuki kegiatan inti, guru membagikan Alat Peraga
Papan
Berpaku pada tiap kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Kemudian
.guru menyuruh siswa untuk membuat / menggambar sebuah persegi
panjang pada papan berpaku, setelah semuanya menggambar, guru menjelasan bahwa mencari luas daerah persegi panjang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara (1) Dengan membilang banyaknya petak persegi satuan yang menutupi daerah itu; dan cara (2) Dengan membilang banyak petak persegi satuan pada salah satu baris dan mengalikannya dengan banyak baris.
Berpaku pada tiap kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Kemudian
.guru menyuruh siswa untuk membuat / menggambar sebuah persegi
panjang pada papan berpaku, setelah semuanya menggambar, guru menjelasan bahwa mencari luas daerah persegi panjang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara (1) Dengan membilang banyaknya petak persegi satuan yang menutupi daerah itu; dan cara (2) Dengan membilang banyak petak persegi satuan pada salah satu baris dan mengalikannya dengan banyak baris.
Contoh :
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Selanjutnya guru bertanya kepada siswa, "Berapa
luas daerah persegi panjang ini ?", sambil menunjuk gambar persegi panjang
pada papan berpaku. Siswa diam dan memperhatikan gambar. Dan tidak berapa lama
beberapa siswa menjawab, "18 buah kotak persegi". Atas jawaban itu
guru langsung memberikan tanggapan dengan memberikan penguatan secara verbal
dengan mengatakan, "Betul, anak-anak". Selanjutnya guru bertanya
lagi, "Bagaimana kalian cara mencarinya ?". Siswa menjawab lagi,
"Dengan cara menghitung banyak kotak yang ada dalam bangun tersebut".
Dan langsung guru memberikan penguatan, "Betul, anak-anak. Selanjutnya
guru menjelaskan cara mencari luas bangun persegi panjang dan persegi dengan
cara menggunakan rumus dengan bantuan alat peraga.
Contoh
: bangun persegi panjang
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
2
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
Guru menyuruh siswa membilang banyak petak persegi
satuan pada salah satu baris (ada enam petak persegi) dan membilang banyak
baris (ada tiga baris). Luas daerah di atas adalah 6 x 3= 18 petak satuan. Maka
dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara
panjang,
lebar dan luas daerah persegi panjang adalah L = p x
dan juga disimpulkan
hubungan antara sisi dan luas daerah persegi (bujur sangkar) adalah L= p x p
atau L= p2.

Kegiatan
selanjutnya mengadakan tanya jawab dan setelah dianggap paham siswa mengerjakan
soal latihan dibawah bimbingan guru terutama membimbing latihan dibawah
bimbingan guru terutama membimbing siswa yang lemah.
Setelah
30 menit waktu yang diberikan guru habis, guru bersama siswa membahas hasil
latihan dan untuk murid yang belum selesai diminta untuk ikut memperhatikan
pembahasan dan penjelasan guru. Selama kegiatan pembahasan latihan ini, keadaan
kelas ribut karena hampir semua siswa ingin ikut berpartisipasi dengan
berteriak keras menjawab setiap pertanyaan guru dan menyatakan hasil pekerjaannya
benar.
Kegiatan akhir guru mengadakan evaluasi untuk
mengetahui keberhasilan proses
pembelajaran dari hasil tindakan kedua didapat hasil pre test dan post test
serta hasil observasi kemampuan kinerja guru untuk Hasil pre test dan post test
dapat dilihat tabel sebagai berikut.
Tabel 4.8
Nilai Pre Test
dan Post Test Tindakan Kedua
No. Siswa
|
Nilai
|
No. Siswa
|
Nilai
|
Ket.
|
||
Pre Test
|
Post Test
|
Pre Test
|
Post Test
|
|||
1
|
4
|
8
|
21
|
2
|
6
|
|
2
|
2
|
10
|
22
|
4
|
6
|
|
3
|
4
|
8
|
23
|
4
|
6
|
|
4
|
6
|
7
|
24
|
2
|
8
|
|
5
|
5
|
6
|
25
|
2
|
8
|
|
6
|
6
|
6
|
26
|
4
|
6
|
|
7
|
8
|
6
|
27
|
8
|
8
|
|
8
|
6
|
8
|
28
|
3
|
7
|
|
9
|
10
|
10
|
29
|
6
|
8
|
|
10
|
6
|
7
|
30
|
7
|
6
|
|
RATA-RATA
|
5,39
|
7,19
|
|
Sedangkan untuk hasil observasi kinerja guru dalam
proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.9
Format Observasi Kinerja Guru Dalam
Format Observasi Kinerja Guru Dalam
Pembelajaran
Tindakan Kedua
No.
|
Aspek Yang
Diamati
|
Skor
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
1
|
Membuka
pelajaran
|
|
|
|
4
|
|
2
|
Menyajikan
materi
|
|
|
|
4
|
|
3
|
Menyiapkan
alat peraga
|
|
|
|
4
|
|
4
|
Menggunakan
alat peraga
|
|
|
|
4
|
|
5
|
Melibatkan
siswa aktif dalam pembelajaran
|
|
|
|
4
|
|
6
|
Melakukan
tanya jawab
|
|
|
|
4
|
|
7
|
Memberikan
penguatan
|
|
|
|
4
|
|
8
|
Membuat
kesimpulan
|
|
|
3
|
|
|
9
|
Memberikan
evaluasi
|
|
|
|
|
4
|
10
|
Memeriksa
hasil kerja siswa
|
|
|
3
|
|
|
11
|
Membimbing
siswa yang kurang
|
|
|
3
|
|
|
|
JUMLAH = 41
|
|||||
|
RATA-RATA =
3,7
|
- Refleksi tampilan kedua
Pada tampilan kedua pada umumnya proses pembelajaran,
hasil belajar dan kinerja guru mengalami kemajuan dari tampilan pertama. Proses
pembelajaran lebih lancar dan siswa lebih banyak memperhatikan pada saat guru
memberikan penjelasan dan penyelesaian contoh soal. Kemajuan ini juga dapat
dilihat dari nilai rata-rata kinerja guru. Dalam pembelajaran tindakan pertama
mendapat rata-rata 3,3 dengan skor maksimal lima. Pada tindakan kedua rata-rata
skor naik menjadi 3,7. Ini ada kenaikan 0,4.
Dari data rata-rata nilai dapat ditafsirkan sebagai
berikut; terjadi kenaikan hasil dari nilai rata-rata hasil pre test dan
rata-rata nilai post test dengan rata-rata baru menunjukan 7,4. Taraf
penguasaan ini belum mencapai 7,5 sesuai dengan prinsip belajar tuntas tapi
sudah menunjukkan keberhasilan dengan adanya peningkatan hasil rata-rata dari
tindakan pertama 6,92 dan tindakan kedua 7,19. lni ada peningkatan sebesar
0,27.
Hal-hal yang menjadi kekurangan pada tindakan pertama,
pada tindakan kedua sudah cukup baik. Dalam kinerja guru hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah membuat kesimpulan dan membimbing siswa yang kurang harus
lebih diperhatikan. Kendala-kendala yang masih ada pada tampilan kedua adalah
strategi yang digunakan selama pembelajaran berlangsung kurang, fleksibel,
penguasaan kelas yang belum merata sehingga situasi gaduh kerap kali timbul.
Dalam penguasaan materi sudah cukup baik memahami, namun faktor yang menghambat
dalam penyelesaian soal-soal adalah peserta didik ada sebagian kecil masih ada
yang belum hafal secara cepat dan tepat dalam perkalian 1-9.
- Saran tampilan berikutnya
Kemampuan menghapal perkalian dari 1-9 merupakan hal
yang sangat penting untuk menyelesaikan soal-soal latihan tentang materi sub
pokok bahasan mengenal rumus luas baku persegi dan persegi panjang. Oleh karena
itu guru harus dapat membimbing peserta didik untuk dapat menguasai secara
hapal perkalian dari 1-9.
Selanjutnya guru agar mampu mengembangkan teknik
bertanya sehingga tidak terkesan monoton
dan dipaksakan serta dapat mengembangkan metode tanya jawab diubah menjadi
teknik diskusi kelompok (kelas) karena masalah yang ditemukan peserta didik
tidak harus selalu dijawab guru, tetapi dapat dilemparkan kepada peserta didik.
Guru harus dapat mengembangkan bentuk-bentuk pertanyaan yang mampu merangsang
keterampilan berpikir peserta didik, sampai peserta didik dapat menyelesaikan
dan menentukan jawabannya. Disini terlihat peranan guru tidak terlalu dominan,
tetapi hanya sebagai pembimbing dan pengelola yang menciptakan kondisi belajar
yang baik untuk memudahkan peserta didik belajar.
C. Pembahasan
Hasil Penelitian
Pembahasan terhadap hasil penelitian dengan cara
menyajikan beberapa temuan yang penting dan berkaitan dengan fokus penelitian.
Pada pembahasan ini akan dibahas mengenai : (1) Model
pembelajaran dengan alat peraga; dan (2) Hasil belajar siswa dengan alat
peraga.
- Model Pembelajaran Dengan Alat Peraga
Model pembelajaran dengan pokok bahasan luas yang
menggunakan Alat Peraga Othello bisa menjadi solusi permasalahan yang dialami
sekolah dan guru. Guru tidak akan mengalami kesulitan dalam mencari alat peraga
untuk mengajarkan pokok bahasan luas. Selain itu Alat Peraga Othellomudah
dimanipulasikan oleh guru maupun siswa.
Melalui Alat Peraga Othelloakan beralih keaktifan
dalam pembelajaran yang dulunya guru selalu mendominasi pembelajaran dengan
ceramah, tapi dengan alat peraga siswa akan lebih aktif dan kreatif
dibandingkan dengan guru.
Disadari oleh para ahli pendidikan bahwa siswalah
sebagai subjek pembelajaran, maka siswa harus aktif dan kreatif mencari
sebanyakbanyaknya pengetahuan dan keterampilan.
Pengunaan Alat Peraga Othello tidak selamanya
digunakan secara terus menerus oleh guru maupun siswa. Alat Peraga
Othelloseperti alat peraga yang lainnya hanya sebatas pengkongkretan konsep
matematika supaya lebih mudah dipahami oleh siswa. Dan apabila konsepnya sudah
dipahami alat peraga bisa saja ditinggalkan penggunaannya.
- Hasil Belajar Siswa Dengan Alat Peraga
Dengan menggunakan Alat Peraga Othello di kelas V SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ , terbukti bisa menjadi media yang efektif dan
efisien dalam Proses Belajar Mengajar. Ini terbukti dengan terjadinya
peningkatan hasil belajar siswa mulai dari tampilan pertama sampai dengan
tampilan ketiga, dan dilihat dari nilai harganya relatif murah serta mudah
didapat atau dibuat oleh siapa saja. Dengan alat peraga yang mudah didapat ini
diharapkan guru bisa mengkongkretkan materi pelajaran matematika pada
pokok bahasan luas.
Selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat
peraga peserta didik lebih aktif belajar dibawah bimbingan guru. Peserta didik
nampak aktif membuat gambar bermacam-macam bangun datar, mencari luas dan
menemukan rumus luas dalam bangun persegi dan persegi panjang. Pembelajaran
dengan Alat Peraga Othello yang telah dilaksanakan, menunjukan bahwa siswa
tidak hanya diam saja memperhatikan guru menyajikan materi, tapi siswa sendiri
bisa mencari dengan aktif dan kreatif suatu konsep matematika. Komunikasi yang
terjadi pada kelas penelitian ini tidak hanya satu arah antara guru dan siswa,
tapi terjadi komunikasi multi arah. Selain komunikasi guru pada siswa, terjadi
juga komunikasi sebaliknya, yaitu antara peserta didik dengan guru dan antara
peserta didik dengan peserta didik.
Hasil pembelajaran yang dicapai dari tindakan
pembelajaran pertama sampai ketiga menunjukan kenaikan nilai rata-rata, ini
menunjukan keberhasilan pembelajaran matematika dengan alat peraga. Pada post
test akhir nilai rata-rata peserta didik dalam pokok bahasan luas mencapai
7,79. Ini menunjukan taraf penguasaan yang tinggi dan mencapai taraf penguasaan
belajar tuntas (master learning).
Kinerja guru kelas
V SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ melalui
format observasi menunjukan peningkatan pada setiap tahap tindakan. Peningkatan
kinerja guru berakibat baik pada hasil befajar peserta didik Kesimpulan dari
hasil observasi menunjukan semakin baik kinerja guru maka berakibat semakin
baik hasil belajar yang dicapai peserta didik
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang penggunaan Alat
Peraga Othello dalam pembelajaran matematika yang dilaksanakan di SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ dapat
disimpulkan sebagai berikut :
- Pada umumnya prestasi belajar siswa di SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ sebelum tindakan beluni mencapai tingkat
yang optimal dalam menyelesaikan soalsoal matematika dalam pokok bahasan
luas.
- Dengan alat peraga merangsang keaktifan dan
kreativitas peserta didik, hal ini terbukti peserta didik SDN ______
Kecamatan ______ Kabupaten
_____ Tahun Pelajaran ___/____ selama
dalam pembelajaran tidak hanya diam saja, tapi siswa aktif dan kreatif
mencari dan menemukan suatu permasalahan yang disajikan guru.
- Penggunaan Alat Peraga Othello dapat memberikan
dampak positif terhadap peningkatan kemampuan siswa / peserta didik sesuai
dengan potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik. Hal itu tampak
pada perubahan hasil evaluasi yang meningkat dari masing-masing peserta
didik dari tindakan pertama sampai tindakan ketiga.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, dalam rangka perbaikan
tindakan Proses Belajar Mengajar serta peningkatan prestasi belajar matematika,
khususnya pokok bahasan rancang bangun
dapat disampaikan antara lain :
1. Bagi Guru
Sekolah Dasar
Guru hendaknya terus mengembangkan kemampuan dan serta
menyerap informasi berbagai model pembelajaran yang dewasa ini sedang
dikembangkan. Selain itu bagi guru Sekolah Dasar dalam mengajarkan matematika
harus menyadari taraf berpikir peserta didik yang masih kongkret, sehingga
kalau guru menyadari akan hal itu, maka akan berusaha mengkongkretkan materi
matematika melalui alat peraga.
Penggunaan alat peraga sangat dibutuhkan dalam
pembelajaran matematika terutama dalam penanaman konsep matematika, karena hal
itu akan membantu peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan, jangan
sampai terjadi verbalisme pada peserta didik. Konsep luas merupakan salah satu
pokok bahasan yang memerlukan alat peraga, oleh karena itu Othello diharapkan bisa digunakan oleh guru sebagai
alat peraga dalam proses pembelajaran di kelas.
2. Bagi Kepala
Sekolah
Dukungan dan perhatian kepala sekolah terhadap tugas
mengajar guru di kelas sangat dibutuhkan. Memberrikan motivasi dan saran-saran
pada guru untuk membuat dan menggunakan alat peraga agar hasil pembelajaran
yang dicapai lebih baik.
3. Bagi Pengelola
Pendidikan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjang
kurikulum yang berlaku di Indonesia. Pemerintah sebagai pengelola dan penyelenggara Pendidikan Nasional, diharapkan
untuk memperbesar anggaran pendidikan, guna melengkapi sarana pendidikan
khususnya alat peraga.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas ( 2001). Pedoman Pembuatan dan Penggunaan
Alat Peraga Sederhana Mata Pelajaran Matematika Untuk SD. Jakarta :
Direktorat Sarana Pendidikan.
Ibrahim, dkk. ( 2001). Kurikulum Pembelajaran.
Bandung : UPI Bandung.
Karso, dkk. (1998). Pendidikan Matematika I Modul
1-4. Jakarta : Depdikbud Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D.II.
Kasbolah K(1998). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti Pelatih Proyek PGSD.
Mujono. (2003). Peningkatan Proses dan Hasil
Belajar Bidang Studi Matematika Melalui Model Pencapaian Konsep di Sekolah
Dasar. Tesis Magister Pendidikan Program Studi Matematika SD UPI Bandung,
tidak diterbitkan.
Moesono, D. dan Sujono. (1993). Matematika 5a Mari
Berhitung, Petunjuk Guru SD Kelas V. Jakarta : Depdikbud.
Natawidjaya, R(1979). Pembinaan dan Pengembangan
Kurikulum Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud.
---------------- (1979 ). Psikologi Pendidikan Inti
SPG. Jakarta : Depdikbud.
Poerwadarminta, W.J.S. (1984). Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Jakarta : PN. Balai Pustaka.
loading...
0 Response to "KUMPULAN CONTOH PTK DAN PTS LENGKAP 2014 "
Post a Comment